SYDNEY – Kerusuhan pecah di pulau terpencil Australia, Pulau Natal yang dijadikan lokasi penahanan imigran setelah seorang pencari suaka ditemukan tewas di dasar jurang.
Pagar yang membatasi fasilitas penahanan dirobohkan oleh para demonstran, memaksa penjaga keamanan melarikan diri dari lokasi. Perginya para penjaga keamanan membuat para pencari suaka yang ditahan tidak terpisah dari warga asing yang akan dipulangkan ke negara asalnya karena berbagai kejahatan.
Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton mengatakan bahwa kerusuhan terjadi setelah kematian seorang tahanan yang diidentifikasi sebagai warga Kurdi Iran yang melarikan diri pada Sabtu (7/11/2015). Jasadnya ditemukan di dasar jurang jauh dari pusat fasilitas penahanan.
“Jika mereka menyebabkan kerusakan pada properti milik persemakmuran, mereka akan diselidiki dan dituntut terkait hal tersebut,” kata Dutton memperingatkan para pencari suaka, sebagaimana dilansir Reuters, Senin (9/11/2015).
Pencari suaka adalah masalah yang sering disinggung di Australia. Negeri Kanguru itu telah lama mendapat kritik atas perlakuan mereka terhadap para pengungsi yang kebanyakan berasal dari negara yang dilanda peperangan di Timur Tengah dan Asia.
Pemerintah Australia telah bersumpah untuk menghentikan mereka sebelum mencapai daratan. Mencegat mereka dan mengirim mereka ke Pulau Natal, Pulau Manus, Papua Nugini dan Nauru.
(Rahman Asmardika)