Aksi penembakan dan pengeboman di Paris diketahui telah mengakibatkan lebih 120 nyawa warga sipil melayang. Penyerangan yang terjadi pada Jumat 13 November 2015 di Stadium State de France, Gedung Konser Bataclan Paris, diduga kuat dilakukan jaringan garis keras ISIS. Selain penembakan dan penyanderaan. Peneror juga melakukan serangan bom bunuh diri.
Menurut Fandria, aksi terorisme juga pernah melanda bangsa Indonesia. Bahkan, korban terbesar dari semua aksi kekerasan adalah warga sipil yang tidak berdosa.
"Kami berharap kebiadaban ini tidak akan terulang," katanya.
Direktur SMI Gatotkoco Suroso mengatakan, doa bersama anak didiknya dilakukan secara spontanitas. Doa bersama para siswa yang berlatar belakang suku dan agama yang berbeda ini juga menjadi pesan bahwa perbedaan tidak selalu beralasan untuk menciptakan perang.
"Dan agama bukan menjadi alasan pembenar untuk melakukan aksi kekerasan," ujarnya.
(Arief Setyadi )