”Tidak ada yang bisa mengklaim lebih peduli orang-orang kita daripada kami, tidak ada negara lain, terutama ketika datang untuk memberikan bantuan ke daerah-daerah di bawah kendali kelompok teroris bersenjata,” lanjut dia, seperti dikutip Reuters, Sabtu (16/1/2016).
Bantuan PBB telah mencapai Madaya untuk pertama kalinya pada Senin 11 Januari. Menurut pejabat PBB, banyak warga Madaya kekurangan gizi dan nyaris tidak bergerak karena hanya terlihat seperti kerangka yang dibalut kulit.
”Tanggung jawab utama untuk penderitaan ini terletak pada kubu yang mempertahankan pengepungan,” kata Wakil Kepala Bantuan PBB Kyung-Wha Kang. ”Hal ini, bagaimanapun, bersama dengan orang-orang yang melakukan kegiatan militer di atau dari daerah penduduk, sehingga menggunakan warga sipil sebagai perisai dan menempatkan mereka dalam bahaya,” lanjut dia.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, menegaskan bahwa pembiaran kelaparan warga sipil sebagai “senjata perang” adalah bentuk kejahatan perang.
(Wikanto Arungbudoyo)