Setelah Bahrun resmi bebas 9 Mei 2014, Kristin mengaku sempat dipamiti juga oleh Bahrun dan sejak itulah dia menghilang. Kepala Subsie Bimbingan Klien Dewasa (BKD) Bapas, Heri Pamungkas mengatakan aparat dari Densus 88 juga kerap ke Bapas menanyakan sejumlah orang terduga terorios, tak terkecuali Bahrun Naim. “Sebelum peristiwa teror di Jakarta, mereka [Densus 88] kerap ke sini. Menanyakan riwayat Bahrun dan kawan-kawannya,” paparnya.
Nama Bahrun Naim sebenarnya dianggap bukan siapa-siapa beberapa tahun lalu. Tujuh tahun lalu, pemuda ini merupakan orang biasa yang menjalankan bisnis warnet di Solo. Kini setelah meletusnya teror bom di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016), namanya disebut dengan jelas oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Tito Karnavian.
Oleh polisi, dia teridentifikasi sebagai orang yang berada di belakang teror mematikan itu. Polda Metro Jaya menyebutkan ISIS yang berbasis di Raqqa–kota yang diklaim sebagai ibu kota ISIS di Suriah–ada di balik serangan itu. Baca juga: Prestasi Akademik di Bawah Rata-Rata, Ini Catatan Bahrun Naim Selama Kuliah di UNS.
Dalam tulisan di blog yang berjudul Pelajaran dari Serangan Paris, Naim meminta pengikutnya di Indonesia untuk mempelajari rencana, target, timing, koordinasi, keamanan, dan keberanian para pelaku teror Paris. Kini Bahrun diyakini masih berada di Suriah, merujuk pada kontak terakhir Reuters dengannya via Telegram November lalu yang menyebutkan dia belum ingin kembali ke Indonesia.
(Amril Amarullah (Okezone))