Nelayan Kampung Lebak, Melawan Ombak Demi Rupiah

Syaiful Islam, Jurnalis
Sabtu 30 Januari 2016 07:34 WIB
Kampung Lebak (foto: Syaiful Islam/Okezone)
Share :

BANGKALAN - Sejumlah nelayan yang ada di Kampung Lebak, Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura tetap nekat melaut, meskipun cuaca sedang ekstrim. Kondisi ini berbeda dengan nelayan yang ada Desa Branta Pesisir, Pamekasan yang memilih sandarkan perahunya.

Siang itu, sejumlah nelayan tampak siap-siap berangkat ke laut. Mereka membawa peralatan untuk menangkap ikan ketika berada di laut nanti seperti jaring. Padahal kondisi cuaca di kampung nelayan itu gerimis dan angin mulai kencang.

Walau kondisi cuaca kurang bersahabat, tidak menyurutkan para nelayan untuk melaut. Sebab, berdasarkan pengalaman, justru ketika ada ombak besar tangkapan ikan akan melimpah. Secara otomatis akan menambah pundi-pundi rupiah yang bakal dikantongi.

Jika saat ini ikan yang banyak di laut jenis dorang. Harganya pun lumayan tinggi untuk ukuran seberat 8 ons bisa mencapai Rp300 ribu per ekor. Biasanya para nelayan berada di laut kurang lebih 10 jam. "Kami tetap berangkat melaut meskipun cuacanya seperti ini. Karena dengan kondisi cuaca seperti sekarang justru banyak ikannya," terang salah seorang nelayan setempat, Kabil kepada Okezone.

Menurut Kabil, dirinya berangkat melaut bersama empat temannya. Kalau lagi beruntung, hasil tangkapan ikan dorang bisa banyak. Kemudian bila diuangkan bisa mencapa Rp1 juta untuk sekali berangkat. "Namun satu juta rupiah itu pendapatan kotor, belum dikurangi BBM. Lalu sisanya dibagi pada nelayan yang ikut. Kami berlima, ya dibagi lima orang," ucapnya.

Tetapi, sambung Kabil, dalam melaut tidak selalu membuahkan hasil. Terkadang pulang dengan tangan kosong karena tidak ada ikan yang berhasil ditangkap. "Ya meskipun cuacanya ekstrim tetap kami berangkat karena sekarang musim ikan dorang dan harganya mahal bila dijual," paparnya.

Disinggung apa tidak takut digulung ombak, ia mengaku tidak takut. Pasalnya sudah mempunyai pelampung bantuan dari pemerintah setempat. Sehingga tidak khawatir tenggelam. "Kami selalu memakai pelampung saat melaut. Kami berangkat melaut antara jam 1 sampai 2 siang, pulangnya antara jam 9 sampai 10 malam," tukasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Janur Kuning, Moh Hamim, menyatakan anggotanya tetap pergi melalut walaupun cuaca kurang bersahabat. Sebab, sekitar 80 persen anggotanya sudah memiliki pelampung.

"Kami tetap mengingatkan pada mereka supaya selalu hati-hati dan waspada, karena nyawa tidak bisa ditukar dengan apapun," terang Hamim pada Okezone.

Menurut Hamim, jumlah nelayan yang ada di kampungnya sebanyak 100 orang. Saat ini memang ditunggu-tunggu nelayan karena musimnya ikan dorang. Sebagian besar para nelayan sudah tahu menebak arah mata angin dan musim ikan apa.

"Jadi mudah dalam menangkap ikan dan mengantisipasi agar bisa terhidar dari adanya kecelakaan laut. Hasil tangkapan ikan sekarang lebih besar dibandingkan 5 tahun yang lalu," ucapnya.

Bahkan peningkatannya mencapai sekitar 30 persen. Meskipun dirinya bisa membaca arah mata angin dan memprediksi adanya gelombang besar, tidak menjamin para nelayan selamat semua saat melaut.

"Disini pernah ada kejadian dua orang meninggal karena jatuh dari perahu karena mereka tidak memakai pelampung. Ironisnya salah satu dari mereka tidak bisa berenang. Maka dari itu, kami selalu menghimbau agar hati-hati dan membawa pelampung," urainya.

(Risna Nur Rahayu)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya