Hal ini rupanya terjadi parpol yang ada di DKI Jakarta. Ketiadaan kader mumpuni akhirnya memaksa mereka mengalihkan dukungan kepada petahana.
"Padahal agenda kontestasi pilkada itu jelas yakni lima tahunan. Kenapa tidak mempersiapkan diri sejak awal," tutur Wakil Ketua Umum Perhimpunan Alumni malaysia (PAM).
Ditambahkan Dian, bentuk dukungan yang diberikan parpol kepada Ahok kemungkinan besar tidak gratisan.
Itu terlihat dari proses lobi dan tarik-menarik kekukatan diantara merereka. Proses kompensasi dan deal-deal politik itu lazim. Tidak ada makan siang gratisan.
"Dan itu dipahami banyak orang. Masalahnya, apa bentuk kompensasi atau imbal balik, deal atau dukungan politik hanya para pelakunya saja yang tahu," tukasnya.
(Fiddy Anggriawan )