Bom Brussels, Charlie Hebdo Salahkan Umat Muslim

Silviana Dharma, Jurnalis
Selasa 05 April 2016 08:02 WIB
Ilustrasi. Tabloid Charlie Hebdo edis Januari 2016. (Foto: Imago)
Share :

PARIS – Delapan hari setelah tragedi bom Brussels yang menewaskan 35 orang dan melukai lebih dari 200 jiwa lainnya, majalah satir Charlie Hebdo merilis editorial yang menyamakan semua umat Muslim dengan pelaku bom Brussels.

Majalah terbitan Paris ini juga menyalahkan istilah islamophobia yang dinilainya telah membungkam publik untuk mempertanyakan atau mengajukan keberatan mereka tentang ajaran Islam yang membuat teroris tumbuh subur.

“Ketakutan diperlakukan sebagai islamophobia atau disebut rasis benar-benar menyerupai teror juga,” ujar penulis dalam editorial yang dipublikasikan pada 30 Maret 2016 tersebut, sebagaimana disunting dari The Guardian, Selasa (5/4/2016).

Pada paragraf awal, majalah yang pernah diserang teroris ini menyebut tragedi bom Brussels terjadi karena kelalaian pihak kepolisian, fenomena pengangguran di usia relatif muda, kedatangan pengungsi dan terakhir, barulah disinggung kaitannya dengan pertumbuhan agama Islam di Eropa.

Mereka menganalogikan penyebaran agama Islam menyerupai gerakan demonisasi Yahudi pada 1930-an, yang dapat dikategorikan seperti racun berbahaya bagi masyarakat.

Untuk memperjelas maksudnya, Charlie Hebdo mencontohkan dengan kisah seorang wanita berjilbab dan pemanggang roti lokal. Wanita berhijab itu digambarkan sebagai sosok yang mengagumkan, berani, terhormat dan sangat berbakti kepada keluarganya.

“Dia tidak menyakiti siapa pun. Jadi mengapa kita harus merajuk tentang jilbabnya dan menimpakan semua kesalahan kepada perempuan itu? Kita seharusnya diam saja, mengalihkan pandangan dan berjalan cepat di sepanjang jalan sambil menggerutu dan bikin gaduh,” tuturnya.

Demikian juga si penjual roti, karena dia orang yang ramah, pelanggannya tidak mempersoalkan ketika dia tidak menjual roti isi babi. Orang-orang seolah menerima begitu saja dengan mudahnya, tanpa mempertimbangkan bahwa itu tidak sesuai dengan budaya di Prancis dan mengesampingkan keinginan pelanggan untuk menyantap daging babi, yang bagi mereka tidak terlarang.

Ceritanya kemudian berlanjut kepada tiga pria Muslim yang tidak terpelajar dan juga tidak saleh, naik taksi menuju ke bandara di Brussels. Pada saat itu, si supir sudah curiga dengan bawaan mereka tetapi tidak melakukan apapun. Akhirnya yang terjadi adalah sesuatu yang benar-benar buruk.

“Tidak ada yang salah dalam hal ini, si Tariq Ramadan tidak salah, wanita berjilbab itu juga tidak, tukang roti dan bahkan ketiga pemuda itu juga enggak. Tetapi, mereka semua berkontribusi terhadap apa yang terjadi pada akhirnya,” sergah majalah satir tersebut.

Menurutnya, masyarakat Prancis harus bangkit. Jangan hanya karena takut dibilang rasis, mereka jadi tidak bisa mengeluhkan hal-hal yang mengganggu mereka. Redaksinya juga mengimbau pembacanya untuk tidak tertipu dengan kepolosan yang ditampakkan umat Islam di depannya.

(Silviana Dharma)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya