Demikian juga si penjual roti, karena dia orang yang ramah, pelanggannya tidak mempersoalkan ketika dia tidak menjual roti isi babi. Orang-orang seolah menerima begitu saja dengan mudahnya, tanpa mempertimbangkan bahwa itu tidak sesuai dengan budaya di Prancis dan mengesampingkan keinginan pelanggan untuk menyantap daging babi, yang bagi mereka tidak terlarang.
Ceritanya kemudian berlanjut kepada tiga pria Muslim yang tidak terpelajar dan juga tidak saleh, naik taksi menuju ke bandara di Brussels. Pada saat itu, si supir sudah curiga dengan bawaan mereka tetapi tidak melakukan apapun. Akhirnya yang terjadi adalah sesuatu yang benar-benar buruk.
“Tidak ada yang salah dalam hal ini, si Tariq Ramadan tidak salah, wanita berjilbab itu juga tidak, tukang roti dan bahkan ketiga pemuda itu juga enggak. Tetapi, mereka semua berkontribusi terhadap apa yang terjadi pada akhirnya,” sergah majalah satir tersebut.
Menurutnya, masyarakat Prancis harus bangkit. Jangan hanya karena takut dibilang rasis, mereka jadi tidak bisa mengeluhkan hal-hal yang mengganggu mereka. Redaksinya juga mengimbau pembacanya untuk tidak tertipu dengan kepolosan yang ditampakkan umat Islam di depannya.
(Silviana Dharma)