PONTIANAK – Akibat tercemarnya Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, perkembangbiakan ikan red arwana yang menjadi khas di sana menjadi terganggu.
Ketua Asosiasi dan Penangkar Silok (Red Arwana), Vincent Apriono, mengatakan bahwa jika dibandingkan 10 tahun lalu, produksi ikan red arwana untuk ekspor ke luar negeri menurun 70 persen.
"Kalau 10 tahun lalu, kami bisa produksi untuk satu indukan red arwana mencapai 30 hingga 35 ekor anakan. Namun karena air Sungai Kapuas sudah banyak tercemar, saat ini kami hanya mendapatkan 15 hingga 20 ekor," ucapnya di Kantor Perikanan dan Kelautan Kalbar, Rabu (6/4/2016).
Menurutnya, berkurangnya jumlah ikan yang juga terkenal dengan nama silok ini tentu berpengaruh terhadap harga penjualan.
"Dengan ukuran 25 sentimeter (cm), kami menjual dengan harga standar USD300. Sedangkan kalau harga, kami menyesuaikan harga dengan hasil produksi," ucapnya.