Sungai Kapuas Tercemar, Perkembangbiakan Red Arwana Terganggu

Dina Prihatini, Jurnalis
Rabu 06 April 2016 14:07 WIB
Ilustrasi (Okezone)
Share :

PONTIANAK – Akibat tercemarnya Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, perkembangbiakan ikan red arwana yang menjadi khas di sana menjadi terganggu.

Ketua Asosiasi dan Penangkar Silok (Red Arwana), Vincent Apriono, mengatakan bahwa jika dibandingkan 10 tahun lalu, produksi ikan red arwana untuk ekspor ke luar negeri menurun 70 persen.

"Kalau 10 tahun lalu, kami bisa produksi untuk satu indukan red arwana mencapai 30 hingga 35 ekor anakan. Namun karena air Sungai Kapuas sudah banyak tercemar, saat ini kami hanya mendapatkan 15 hingga 20 ekor," ucapnya di Kantor Perikanan dan Kelautan Kalbar, Rabu (6/4/2016).

Menurutnya, berkurangnya jumlah ikan yang juga terkenal dengan nama silok ini tentu berpengaruh terhadap harga penjualan.

"Dengan ukuran 25 sentimeter (cm), kami menjual dengan harga standar USD300. Sedangkan kalau harga, kami menyesuaikan harga dengan hasil produksi," ucapnya.

Sementara Kadis Perikanan dan Kelautan Kalbar, Gatot Rudiyono, mengimbau seluruh masyarakat untuk mendukung perkembangbiakan ikan red arwana yang menjadi ikon Kalbar sehingga dapat menjaga lingkungan dengan baik.

"Kita terkendala dengan adanya kegiatan yang menimbulkan adanya pestisida dan mercuri di Sungai Kapuas yang berpengaruh terhadap hasil produksi ikan red arwana," ujarnya.

Ia berharap pemerintah, termasuk pihak terkait, dapat bertindak tegas mengenai pencemaran yang menyebabkan turunnya hasil produksi ikan red arwana.

"Tentu masyarakat dan pihak terkait harus memahami terlebih dahulu dampak dari tercemarnya Sungai Kapuas. Salah satunya kerugian akan produksi ikan arwana. Tindakan tegas perlu dilakukan agar Kalbar dapat terus mengembangbiakkan arwana hingga seluruh dunia," paparnya.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya