BANDA ACEH – Kain tenun songket Aceh sudah tak bisa dipisahkan dari Dahlia (55). Meski kini sibuk mengurus cucu, warga Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, itu selalu menyempatkan diri menenun songket. Kerajinan ini sudah mendarah daging di keluarganya.
Songket adalah kerajinan tangan khas Aceh. Kain yang dipadu dengan benang sutera tersebut punya nilai budaya tinggi di masyarakat Serambi Makkah. Terbukti dari nama, jenis, dan motif tiap songket punya makna dan filosofi tersendiri.
Contohnya, songket motif Peupula Meurante yang memiliki falsafah bagaimana masyarakat Aceh tumbuh dan saling bersatu dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Selain itu, corak yang ada di songket Aceh juga berkenaan langsung dengan tanaman atau tumbuhan yang mudah ditemukan di sana. Misalnya, corak Pucok Labu (pucuk buah labu) dan Bungong U (bunga kelapa).
Biasanya, kain songket ini digunakan saat menghadiri kegiatan-kegiatan sakral adat atau keagamaan, salah satunya resepsi pernikahan. Peminatnya tidak hanya dari Aceh, namun masyarakat luar daerah juga ikut memesannya melalui media sosial Facebook.
“Untuk yang kain sutera, kami harus pesan dulu di Bandung, baru kami buat di sini,” kata Dahlia kepada Okezone saat menyambangi rumahnya di Gampong Siem, beberapa waktu lalu.
Harganya pun bervariasi, untuk yang berbahan katun dibanderol Rp800 ribu per songket, sementara kain sutera hingga menembus angka Rp2 juta untuk setiap satu pesanan. Wajar saja, selain sulit ditenun, harga benang sutera juga melambung.