“Untuk mendapatkan harga lebih tinggi jelang Ramadan dan Lebaran. Petani memutuskan untuk menunda panen. Nah ini menjadi salah satu faktor penyebabnya. Ukuran ikan yang semakin besar membuat kebutuhan akan oksigen semakin banyak. Ini selanjutnya membuat turunnya kadar oksigen di air yang berada di KJA,” ujar Zonny, Rabu (11/5/2016)
Faktor lainnya lanjut Zonny, adalah kondisi KJA yang sangat padat. Di mana untuk KJA ukuran 5 meter kubik, idealnya diisi 5 ribu ekor ikan. Namun dalam praktiknya, para petani memasukkan hingga 15 ribu ekor ikan dikeramba tersebut.
“Posisi KJA juga tidak teratur, sehingga aliran angin dan sirkulasi air menjadi kurang baik di KJA. Ini juga menyebabkan kondisi oksigen semakin buruk,” tambahnya.
Faktor cuaca lanjut Zonny juga berperan cukup besar. Kondisi di sekitar perairan Danau Toba yang mendung dan minim sinar matahari, membuat proses fotosintesa tumbuhan air dan plankton yang ada di air menjadi lambat dan membuat proses produksi oksigen menurun.
“Tidak ada angin, maka tidak ada ombak sehingga tidak ada penambahan oksigen di permukaan air. Selain itu perairan Haranggaol terletak di antara bukit kapur sehingga pada waktu tertentu PH bisa naik sehingga dapat menyebabkan racun,” jelasnya.
(Risna Nur Rahayu)