HANOI – Pimpinan Taliban, Mullah Akthar Mansour, tewas dalam serangan drone Amerika Serikat (AS) yang dilancarkan di Pakistan. Presiden Barack Obama pun menyebut tewasnya Mansour sebagai sebuah pencapaian penting.
Pria kelahiran Hawaii itu juga menyebut Negeri Paman Sam telah berhasil menyingkirkan seorang pemimpin organisasi yang terus-menerus merencanakan serta mengeksekusi serangan terhadap pasukan AS dan sekutunya. Hal itu disampaikan Obama usai bertemu pejabat Vietnam di Hanoi.
“Mansour menolak upaya Pemerintah Afghanistan untuk terlibat secara serius dalam negosiasi damai dan mengakhiri kekerasan yang merenggut ribuan nyawa pria, perempuan, dan anak-anak Afghanistan yang tidak berdosa,” kata Obama, seperti dimuat New York Times, Senin (23/5/2016).
“Taliban seharusnya menggunakan kesempatan ini untuk mengikuti satu-satunya jalan terbaik mengakhiri konflik berkepanjangan, yaitu bergabung dengan Pemerintah Afghanistan dalam proses rekonsiliasi menuju perdamaian dan stabilitas jangka panjang,” imbuh presiden ke-44 AS itu.
Serangan drone tersebut merupakan yang pertama dilakukan AS ke Provinsi Baluchistan, Pakistan. Wilayah itu diketahui sebagai markas besar pasukan Taliban yang berasal dari Afghanistan. Selama ini serangan AS dilakukan ke wilayah lain di Afghanistan dan Pakistan.
Tewasnya Mansour sontak membuat kelompok militan itu kalang kabut. Majelis pimpinan Taliban telah melakukan pertemuan untuk mempertimbangkan pemindahan kekuasaan pasca-serangan AS. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin juga membicarakan kandidat pengganti Mansour.
Meski begitu, siapa pun pemimpin Taliban berikutnya, imbauan Obama mengenai negosiasi damai tidak akan diindahkan. Opsi negosiasi damai telah lama dilihat sebagai opsi tidak populer di kalangan figur-figur senior Taliban.
(Wikanto Arungbudoyo)