CINCINNATI – Ditembak matinya gorila Harambe di kebon binatang (bonbin) Cincinnati menuai kecaman dari pecinta hewan di seluruh dunia. Mereka beramai-ramai menandatangani petisi untuk polisi menyelidiki kasus ini sebagai kasus kriminal.
Tidak berhenti di situ, pada Senin 30 Mei 2016, puluhan orang yang tidak puas dengan keputusan pengelola bonbin, mengadakan upacara dukacita di depan bonbin tersebut. Mereka berkumpul membawa spanduk berisi protes, bunga dan lilin untuk mengenang ‘pengorbanan’ gorila jantan tersebut.
Beberapa protes yang dilayangkan, antara lain bertuliskan ‘All Animals Lives Matter’ atau ‘Nyawa Semua Binatang Berharga’, ‘RIP HARAMBE’ atau ‘Selamat Jalan Harambe’ dan ‘Senseless Death’ atau ‘Kematian Tanpa Perasaan’.
“Ini adalah aksi untuk merespon kematian tanpa perasaan (yang menimpa Harambe). Saya tahu betapa marah dan sedihnya kita semua di sini dengan situasi ini. Demonstrasi ini ditujukan untuk mengenang Harambe,” kata salah seorang pengunjuk rasa, seperti disadur Breitbart, Jumat (3/6/2016).
Aksi solidaritas untuk gorila 17 tahun di atas dipromotori oleh Anthony Seta, seorang advokat dari Liberasionis Hewan. Ia mengumpulkan 300 orang yang simpati terhadap kematian Harambe di Facebook, dan bersama beberapa pecinta hewan berkumpul di luar bonbin Cincinnati, membawa lilin dan memprotes selama dua jam.
"Ini bukan protes terhadap kebun binatang. Saya ingin sinyal yang kami kirimkan ini mencerminkan keibaan kami atas kepergian Harambe, bukan kemarahan kami kepada pengelola kebun binatang. Alasan kami murni untuk mengenang keberadaan makhluk hidup itu di penangkaran," tegasnya.
Harambe adalah gorila jantan kelahiran Brownsville, Texas, yang tinggal di bonbin Cincinnati, Ohio, sejak 2014. Dia termasuk gorilla dataran rendah yang masuk kategori hewan terancam punah. Gorila tersebut ditembak mati karena dinilai menjadi ancaman yang membahayakan nyawa anak laki-laki berumur tiga tahun yang lepas dari pengawasan orangtuanya dan jatuh ke kandang Harambe pada Sabtu 28 Mei 2016.
Namun dari rekaman amatir yang menampilkan Harambe dan si anak pada saat kejadian. Harambe justru terkesan berusaha melindungi anak itu dari kerumunan pengunjuk yang berteriak-teriak, seperti bangsa kera yang menantang berkelahi. Meskipun, dia sempat menyeret anak itu sebanyak dua kali.
(Silviana Dharma)