“Setelah keluarga keraton ziarah ke makam Sunan Gunung Jati, Sultan Kanoman dan keluarganya turun kemudian bersalaman dengan warga dan makan bersama warga,” sebutnya.
Dia mengatakan, dalam tradisi Grebeg Syawal di Cirebon lebih mengedepankan kekeluargaan dan silaturahmi. Umat muslim atau keluarga keraton sebelumnya melaksanakan ibadah puasa Syawal terlebih dahulu selama enam hari. Rangkaian prosesi Grebeg Syawal dalam banyak sisi, telah mengekspresikan khasanah kebudayaan yang tidak bisa dilepaskan dari semangat masyarakat Cirebon dan masyarakat Indonesia. “Grebeg Syawal ini menjadi salah satu tradisi turun temurun yang dilakukan keluarga keraton di Cirebon dengan mengunjungi makam para leluhur mereka di kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati Cirebon,” tambahnya.
Warga yang ingin makan bersama keluarga keraton, kata Opan, dipimpin oleh istri-istri kuwu se-Wilayah III Cirebon dan makan bersama. Dia mengatakan, pada tradisi makan bersama keluarga keraton ini, peran istri para kuwu sangat penting memimpin warganya. “Istri para kuwu wajib melayani warga yang ikut dalam tradisi Grebeg Syawal,” katanya.
Keberadaan tiga keraton di Cirebon yang masih aktif menjadikan tradisi Grebeg Syawal tersebut berbeda jadwal. Jika Keraton Kanoman Cirebon melaksanakan Grebeg Syawal pada H+7 setelah Idulfitri, Keraton Kasepuhan Cirebon kemudian berikutnya.
Opan mengisahkan, perbedaan jadwal Grebeg Syawal tersebut selain faktor jumlah warga, lantaran pada tahun 1677 Keraton Cirebon sudah dibagi menjadi dua, yakni Kanoman dan Kasepuhan. “Pada 1570 kan masih satu keraton yaitu Cirebon. Sejak terbagi menjadi dua, jadwal Grebeg Syawal yang masih konsisten dilakukan pada H+7 itu yang dilakukan Keraton Kanoman. Kalau Kasepuhan biasanya setelah Kanoman,” ujarnya.
(Amril Amarullah (Okezone))