Dia mengaku, menghadapi tipe anak korban kekerasan seksual yang berbeda-beda, ada yang pendiam dan trauma tetapi ada pula yang lebih agresif dengan lawan jenis. Pendekatan yang dilakukan pun disesuaikan dengan kondisi psikologi anak. Kasus-kasus seperti itu menyebar di wilayah Solo, Karanganyar, Boyolali dan sekitarnya.
Menurut Shoim, pihaknya tidak henti-hentinya melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dengan dasar modus yang digunakan pelaku. Dia mengatakan, media sosial (medsos) cukup efektif menjadi modus pelaku mendekati korban. Dia menemukan modus yang berbeda-beda pada setiap kasus.
“Modus itulah yang dijadikan bahan untuk melakukan tindakan preventif. Saya pernah sosialisasi di SMP dan SMA. Dari angket yang saya sebar, ternyata 75% anak SMP dan SMA pernah melihat konten porno lewat Internet,” katanya.
(Fransiskus Dasa Saputra)