Monang mengaku sangat menyesalkan "insiden" fashion yang terjadi terhadap Presiden Jokowi itu. Dia mengaku insiden itu harusnya tak perlu terjadi jika panitia melibatkan tokoh-tokoh Batak lokal dalam acara tersebut.
"Ini kan untuk pemimpin, harus dibawa dari nilai-nilai tradisi Batak. Di kumpulkan dulu tokoh-tokoh masyarakat untuk menyambut kedatangannya. Jadi tradisi-tradisi yang dihadirkan benar-benar sesuai. Ini kan kenyataannya tidak. Saya malah dengar panitianya dari Jakarta. Yang membuat pakaian adatnya desaigner yang belum tentu paham soal budaya Batak. Jangan kalau ada orang-orang di Jakarta berpakaian begitu, lalu dibawa ke mari," sesalnya.
"Yang mana sebenarnya, apakah acara itu untuk mengangkat tradisi atau nilai-nilai atau sebatas berfashion. Orang Batak harusnya menunjukkan apa nilai-nilai tradisi apalagi kepada pemimpin. Presiden itu pemimpin atau raja. Lain jika diberikan ke artis, mau bilang apa ya terserah. Karena itu untuk senang-senang. Tapi ini untuk pemimpin," ketusnya.
Sementara itu terkait banyaknya hujatan kepada Jokowi atas insiden Topi Aneh itu, Monang memberikan pembelaan. "Mana ada salahnya dia, mana tahu-tahu dia itu. Tapi orang-orang Batak yang masih mencintai leluhurnya dan tradisinya, itu yang mengkritik. Jokowi kan enggak tahu. Dia berpikir kalau orang Batak buat begitu ya itulah yang betul," tukasnya.
(Risna Nur Rahayu)