Permukiman Cisungsang sudah terakiri listrik, sedangkan untuk bertani masyarakat menggunakan alat-alat modern. Masyarakat di sana menggunakan perangkat elektronik seperti TV, radio, tape recorder dan telepon.
Meski begitu, masyarakat adat Cisungsang tidak meninggalkan budaya asli leluhur seperti bentuk rumah tradisi yaitu rumah kayu berbentuk panggung dengan alat memasak tungku (hawu) yang di atasnya dilengkapi tempat penyimpanan alat-alat dapur yang disebut Paraseuneu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten Opar Sochari mengatakan, Ritual Seren Taun juga merupakan ajang silaturahmi antara anggota masyarakat kasepuhan dengan kepala adat.
Dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual, lanjut Opar, Kepala Adat mengundang para penasihat, perangkat Kasepuhan, dan para réndangan (perwakilan masyarakat adat), tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah desa, kecamatan, kepolisian untuk menyampaikan rangkaian kegiatan dimaksud.
“Seren Taun yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam, berlokasi di Imah Gede, yaitu tempat kediaman Kepala Adat, diisi dengan berbagai kegiatan dan ritual adat. Ritual Adat Seren Taun juga merupakan puncak siklus dari tradisi masyarakat Kasepuhan Cisungsang dalam proses pengolahan, menanam, memelihara, menyimpan, dan menghargai padi,” kata Opar.