JAKARTA – Dalam kunjungan pertamanya ke Indonesia, Presiden Filipina Rodrigo Duterte bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan membahas beberapa hal penting yang melibatkan kedua negara. Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam pertemuan kedua pemimpin hari ini adalah masalah penanganan bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba).
Narkotika dan obat-obatan ilegal memang telah lama menjadi isu serius baik di Indonesia maupun Filipina dan telah menelan banyak korban. Masalah ini begitu serius sehingga kedua negara sempat mewacanakan kondisi darurat narkoba di negara masing-masing.
“Kita memiliki kekhawatiran mendalam terhadap perdagangan ilegal obat-obatan terlarang dan dampaknya terhadap masyarakat kita. Kami akan mencari cara memperkuat kerjasama untuk mengatasi ancaman ini,” ujar Duterte.
Presiden Jokowi telah mengambil tindakan tegas untuk mengatasi masalah ini dengan memperkenalkan hukuman mati bagi para pengedar narkoba sejak tahun lalu. Sedangkan, di Filipina, Presiden Duterte bahkan mengadopsi langkah yang lebih ekstrem dengan melegalkan pengadilan jalanan bagi para bandar dan pengguna barang haram tersebut.
Selain membahas mengenai masalah obat-obatan terlarang, pertemuan kedua kepala negara juga membicarakan mengenai kerjasama lain di berbagai bidang, terutama bidang maritim dan keamanan. Presiden Duterte juga menyinggung masalah pembebasan warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.
Rodrigo Duterte dilantik menjadi Presiden Filipina pada 30 Juni 2016 setelah meraih suara terbanyak dalam pemilihan sebulan sebelumnya. Dia mendapat banyak kritik karena gaya kepemimpinan dan pidato-pidatonya yang dianggap penuh provokasi.
(Rahman Asmardika)