JAKARTA – Indonesia yang diwakili Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi ditunjuk menjadi pembicara utama dalam pembahasan agenda kerjasama menghadapi tantangan keamanan global pada Pertemuan Ke-21 Rapat Tingkat Menteri ASEAN dan Uni Eropa (AEMM) di Bangkok, Thailand, pada 13–14 September. Hal pokok yang diuraikan meliputi kontra-terorisme, deradikalisasi, migrasi, dan penyelundupan manusia.
“Pandangan Menlu RI sangat diapresiasi oleh sejumlah negara anggota Uni Eropa, terutama terkait penggunaan pendekatan soft power yang menekankan nilai-nilai toleransi dan moderasi di masyarakat,” demikian pernyataan resmi dari pihak Kementerian Luar Negeri RI, Sabtu (15/10/2016).
Pandangan Menlu Retno yang menuai pujian seperti dimaksud tersebut yakni terkait penanggulangan terorisme. Ada tiga poin kunci yang ditekankan Indonesia untuk menghadapai ancaman terorisme. Pertama, penguatan kerjasama kontra-terorisme. Kedua, penguatan juga terhadap kemampuan unit antiteror dan counter cyber terrorism.
“Terakhir, pengarusutamaan pendekatan soft power melalui pendidikan, peningkatan peran perempuan, civil society, serta berintegrasi dengan organisasi kemasyarakatan dan agama,” ujar diplomat Indonesia yang lama berkecimpung di Eropa tersebut.
Salah satu pendekatan halus (soft approach) kontra-terorisme Indonesia adalah deradikalisasi. Istilah ini dilatarbelakangi perburuan teroris di Aceh pada 2010. Kala pendekatan militer saja dirasa tidak cukup efektif memangkas radikalisasi dan ekstremisme sampai ke akar-akarnya. Alhasil diambil jalur pemberdayaan, pemberian pemahaman kepada masyarakat luas dan kelompok-kelompok masyarakat soal teroris serta bahayanya.
“Untuk itu, kerjasama kemitraan ASEAN-Uni Eropa penting diperkuat, utamanya dalam upaya memerangi aksi terorisme dan ekstremisme melalui kerjasama konkret oleh kedua belah pihak,” tutup Menlu Retno.
(Silviana Dharma)