BANGKOK – Wafatnya Raja Thailand Bhumibol Adulyadej dipastikan tidak akan mengganggu pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) pada 2017. Sebelumnya, muncul kekhawatiran pemerintah junta militer akan menunda pemilu karena Negeri Gajah Putih tengah memasuki masa berkabung selama satu tahun.
“Pemerintah telah menegaskan kembali komitmen mereka untuk mengikuti peta jalan untuk pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada penghujung 2017,” tulis harian Bangkok Post, mengutip dari Reuters, Senin (17/10/2016).
Namun, Juru Bicara Pemerintah Junta Militer Weerachon Sukondhapatipak enggan untuk berkomentar mengenai kabar tersebut. “Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas politik,” ucapnya. Pemerintah sendiri telah menegaskan aktivitas ekonomi dan pemerintahan tetap berlangsung normal meski dalam suasana berkabung.
Sebagaimana diberitakan, Raja Bhumibol Adulyadej meninggal pada Kamis 13 Oktober 2016 akibat menderita sejumlah penyakit di Rumah Sakit Siriraj, Bangkok. Pewaris takhta kerajaan Pangeran Maha Vajiralongkorn menunda suksesi demi menghindari kebingungan di tengah masyarakat.
Selama 70 tahun berkuasa, Raja Bhumibol dipandang sebagai pemersatu Thailand yang beberapa kali diguncang ketidakpastian politik. Dalam satu dekade saja, Thailand telah dua kali diguncang kudeta militer terhadap PM Thaksin Shinawatra pada 2006 dan PM Yingluck Shinawatra pada 2014.
Junta militer memiliki roadmap atau peta jalan untuk memulihkan sistem demokrasi dengan mengadakan pemilu 2017. Peta jalan tersebut tercantum dalam draf konstitusi yang disetujui warga lewat Referendum Thailand pada Agustus 2016. Pemerintah yang terpilih nantinya akan mulai berkuasa sejak awal 2018.
(Wikanto Arungbudoyo)