Selama sekira dua pekan, Indah dan sembilan rekannya dari Balai Arkeologi menyusuri Sungai Oya yang melintasi Kecamatan Semin, Ngawen, Nglipar, Karangmojo, Wonosari, Gedangsari, Patuk hingga Playen Gunungkidul. Periode turun ke lapangan itu dimulai 19 Oktober lalu dan berakhir 1 November.
Perburuan selama dua pekan itu berhasil menemukan lebih dari 60 artefak yang diduga kuat peninggalan manusia purba zaman batu tua atau sekira 1,8 juta tahun lalu. Mulai dari alat penetak, kapak perimbas dan pahat. Seluruhnya diduga kuat adalah benda hasil kebudayaan manusia pra sejarah. Puluhan artefak itu diperoleh setelah para peneliti menyambangi lebih dari 20 titik lekukan sungai.
Lekukan sungai dari berbagai pengalaman arkeolog kerap menjadi tempat tinggal manusia purba. Manusia purba zaman batu tua diyakini tak hidup di dalam gua seperti pada zaman batu tengah atau mesolitikum. Tempat berteduh seperti cekungan-cekungan tebing di dekat sungai atau gua terbuka lebih disenangi sebagai tempat tinggal.
“Lekukan sungai atau meander itu biasanya lebih rata enak untuk ditempati serta kerap tersedia bahan makanan. Binatang juga kerap mencari makanan di sekitar lekukan,” tuturnya.
(Fransiskus Dasa Saputra)