Di tahun 1950-an, beberapa pejabat AS menekan pemerintah Negeri Paman Sam untuk meningkatkan peran aktif di Antartika. Para pejabat tersebut menduga benua tersebut memiliki potensi besar untuk dijadikan lokasi tes nuklir.
Untungnya Presiden Dwight D. Eisenhower tidak mendengarkan tekanan tersebut dan memilih jalan alternatif. Ia mengutus pada diplomat AS untuk bekerja sama dengan Uni Soviet demi menciptakan perjanjian yang dapat menjadikan Antartika sebagai zona yang bebas aktivitas militer dan menekan debat yang terjadi di masa depan perihal klaim teritorial di benua tersebut.
Terciptalah Antartica Treaty yang berisi tidak diperbolehkannya adanya aktivitas militer hingga percobaan nuklir namun aktivitas ilmiah masih diperbolehkan. Pada perjanjian itu dituliskan para peneliti bebas berkeliling tanpa batasan.
Akhinya 12 negara menyetujui perjanjian itu dan menandatanganinya pada 1 Desember 1959. Perjanjian ini juga dianggap sebagai langkah kecil namun besar dalam perkembangan kontrol senjata dan kerjasama politik antara AS dan Uni Soviet.
(Emirald Julio)