Ketegangan antara AS dan Terusan Panama meningkat. Manuel Noriega kembali mengacaukan pemilihan umum yang sudah memenangkan Guillermo Endara sebagai presiden. George Bush –Presiden AS saat itu- memerintahkan penyebaran pasukan tambahan ke Selat Panama. Pada 16 Desember 1989, seorang marinir AS tewas ditembak oleh Pasukan Pertahanan Panama (PDF) yang didirikan Manuel Noriega.
Presiden George Bush kemudian menerbitkan perintah Invasi Panama pada 17 Desember 1989 untuk mendongkel Noriega sebagai pimpinan militer. Sebanyak 9.000 orang tambahan pasukan AS bergabung dengan 12.000 personel yang telah lebih dahulu berada di Panama pada 20 Desember 1989. PDF di bawah komando Manuel Noriega tentu saja melakukan perlawanan ketat.
Pasukan AS berhasil menghancurkan PDF pada 24 Desember 1989 dan menguasai hampir seluruh Panama. Guillermo Endara kemudian dinobatkan sebagai Presiden Panama oleh pasukan AS. Ia menerbitkan surat perintah untuk membubarkan PDF. Badan Pengawasan Obat-Obatan dan Makanan (DEA) AS berhasil menangkap Noriega pada 3 Januari 1990 di Kedutaan Besar (Kedubes) Vatikan di Panama. Noriega sebelumnya berhasil memperoleh suaka politik untuk berlindung di balik tembok Kedubes Vatikan.
Sebanyak 23 orang tentara dan tiga orang warga sipil tewas dalam invasi tersebut. Sementara korban tewas di pihak PDF mencapai 150 orang. Sekira 500 orang warga sipil Panama turut meregang nyawa. Noriega kemudian terbukti bersalah dengan tindak perdagangan narkoba tingkat delapan, pemerasan, dan pencucian uang. Ia dijatuhi hukuman 40 tahun penjara. Noriega menjadi pemimpin negara pertama yang didakwa melakukan tindakan kriminal oleh Pengadilan AS sepanjang sejarah.
(Wikanto Arungbudoyo)