"Tahun 2015, ada 15 ekor. Karena ada Harimau di Seluma yang beranak maka jumlah Harimau menjadi 17 ekor," jelas Abu.
Terancamnya habitat harimau itu, jelas Abu, dikarenakan masih adanya pemburuan harimau di kawasan tiga wilayah itu. Ditambah ekosistem di sekitar habitat harimau sudah rusak akibat pembalakan liar.
Tidak hanya itu, tambah Abu, masih adanya pemasangan jerat oleh oknum tidak bertanggungjawab di kawasan hutan yang menjadi kawasan bermain Harimau. Keberadaan Harimau di Bengkulu, tambah Abu, sudah dilaporkan ke Kementerian Kehutanan pada akhir Desember 2016 lalu.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, terang dia, mesti adanya dukungan seluruh lapisan masyarakat untuk menghentikan pemburuan dan merusak kawasan hutan yang menjadi tempat bermain harimau.
"Pemburuan makanan harimau pun ikut diburu, seperti Rusa dan Babi. Makanya keberlangsungan Harimau di Bengkulu menjadi terancam punah," pungkas Abu.
(Khafid Mardiyansyah)