WASHINGTON DC - Amerika Serikat resmi keluar dari negosisasi Kerjasama Lintas Pasifik (TPP). Keputusan ini menjadi kebijakan pertama yang ditandatangani Presiden Donald John Trump dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.
"Kalian semua tahu kan apa artinya ini? Kami sudah membahas ini sejak lama. Ini adalah keputusan terbaik untuk para pekerja AS," terangnya dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, seperti disunting dari The Guardian, Selasa (24/1/2017).
Keputusan sang miliarder untuk membatalkan bergabungnya AS dengan 11 negara Asia lain tidak mengejutkan. Sebab dia sudah menggembar-gemborkan misi tersebut sejak kampanyenya setahun terakhir. Ia merasa punya ide perjanjian dagang yang lebih baik daripada upaya mantan Presiden Barack Obama untuk menguatkan cengkraman di pasar Asia.
Obama sendiri berkali-kali menegaskan bahwa kesepakatan TPP akan memberikan manfaat sebagai penyeimbang yang efektif untuk dominasi China di kawasan Asia. Faktanya, baik Hillary Clinton maupun Donald Trump yang menjadi penerusnya, menentang gagasan tersebut selama kampanye Pilpres AS 2016.
TPP Sebelumnya juga belum pernah diratifikasi oleh Kongres AS yang dikuasai oleh Partai Republik. Namun beberapa pemimpin negara Asia telah menginvestasikan modal politik yang besar ke dalam perjanjian ini. Menurut Bank Dunia, negara-negara yang andil dalam TPP mewakili sekira 13,5 persen ekonomi global.
Selain itu, Trump juga menegakkan kembali larangan untuk negara menyediakan dana federal yang ditujukan membantu kelompok internasional yang melakukan aborsi. Kebijakan ini juga melarang pembayar pajak menggalang dana untuk kelompok yang melobi pelegalan aborsi atau mempromosikannya sebagai metode keluarga berencana.
Entah disengaja atau tidak, Trump menandatangani larangan tersebut tepat satu hari setelah hari peringatan Keputusan Roe v Wade Mahkamah Agung AS yang mengesahkan aborsi di AS sejak 1973.
(Rahman Asmardika)