DR Wahidin Soedirohoesodo rupanya tidak hanya dikenal sebagai pelopor pergerakan. Menjadi seorang jurnalis, ia mencurahkan segenap pikirannya untuk berjuang demi bangsa Indonesia.
Berkarier sebagai jurnalis memang tidak direncanakan sejak awal oleh Wahidin Soedirohoesodo. Kisahnya mengalir begitu saja. Seiring waktu berjalan, semangatnya kian bergemuruh ketika didorong situasi dan iklim pergerakan saat itu. Ia kemudian meniatkan untuk menyelami dunia tulis-menulis sebagai salah satu alat juangnya.
Ia lahir di Desa Mlati, 7 Januari 1857. Kedua orangtuanya memberikan nama lengkap Mas Ngabehi Wahidin Soedirohoesodo.
Saat muda, Wahidin meniti pendidikan di bangku Sekolah Ongko Loro (Sekolah Desa) di desanya. Lalu, ia meneruskan sekolahnya di Lagere School Yogyakarta dengan pertolongan iparnya, seorang administratur di pabrik gula di Wonolopo, Sragen, Surakarta. Hingga akhirnya, ia pun mengabdikan diri pada almamaternya.
Pada 1890, pertama kalinya Wahidin mengukir karier di bidang jurnalistik. Ia bergabung dengan awak redaksi surat kabar Retno Doemilah. Media yang dipilihnya ini berbahasa Jawa dan Melayu terbitan Yogyakarta.
Retno Doemilah menerbitkan nomor perdananya pada Jumat 17 Mei 1895 dengan redaktur FL Winter. Wahidin mencatatkan diri sebagai redaktur tunggal setelah enam tahun kemudian, pada 1991. Sebelumnya dalam bekerja, ia berduet dengan seorang Tionghoa, Tjan Tjook Sian.
Diterbitkan seminggu sekali, setiap Selasa dan Jumat, surat kabar ini ini mempunyai nama agak unik. Tentunya juga menggeliat untuk ukuran sebuah koran.
Meski namanya Retno Doemilah, ini bukan surat kabar tentang perempuan. Media tersebut menjadi ladang semai pendiri bangsa yang menyusun puzzle batu bata kebangsaan satu demi satu. Di sinilah mula-mula Wahidin Soedirohoesodo, Dr Soetomo, dan Wignjohadjo duduk sebagai redaktur.
Ketika menakhodai Retno Doemilah dengan posisi sebagai redaktur, pekerjaan Wahidin seakan dimudahkan. Banyak kalangan guru menyokongnya dan menjadi pelanggan setia.
Tentu saja, mereka yang menjadi pelanggan bukan hanya bupati-bupati yang cuma bisa baca huruf dan bahasa Jawa. Melainkan juga para priyayi dan anaknya yang telah mendapatkan pengajaran Belanda dan melek bahasa Melayu dan huruf latin.
Menariknya lagi, masa ketika politik etis bekerja juga berpengaruh bagi surat kabar Retno Doemilah. Terutama pengajaran, serta kebebasan yang diberikan Gubernur Jenderal, Van Heuts, kepada Boemiputra. Dengan politik balas budi itu, para priyayi Jawa memungkinkan mendapatkan pengajaran dalam lingkup masyarakat kelas dua (Tionghoa) dan kelas satu (Belanda).
Sejak itu, Retno Doemilah dipenuhi para priayi Jawa yang duduk di meja redaksi. Kemudian Wahidin dan Soetomo memanfaatkan surat kabar ini untuk menggalang kesatuan priayi Jawa.
Inilah gelanggang tempat para cendekiawan bangsa Indonesia mencurahkan pikirannya. Retno Doemilah, seperti namanya, hendak memberikan “dilah” atau “dian” yang terang bercahaya dan bernilai bagaikan “retna” atau bulan bagi bangsanya.
Sekalipun Retno Doemilah bukan sebuah surat kabar yang berkaliber nasional, tetapi penerbitnya, yaitu Firma JH Bunning, menyerahkan segala isinya kepada Wahidin. Selain kepentingan-kepentingan sosial dan ekonomi, serta kesusastraan pada umumnya, Retno Doemilah —seperti halnya surat kabar-surat kabar lain yakni Djawi Kanda, Bramartani, dan lainnya- juga memulai memberitakan soal ilmiah dengan cara yang populer.
Pada 1938, Ki Hadjar Dewantoro, sebagai salah satu tokoh pergerakan sekaligus pelaku jurnalistik, pernah mengurai kenangan tentang Retno Doemilah pada masa Wahidin.
“Dalam hal ini saja ingat akan perbintjangan jang bersemangat tentang bedanja ‘bacil’ dengan
‘bacterie’ jang pada moelanja dikemoekakan oleh seorang moerid sekolah dokter di Djakarta bernama Radjiman, jang kemoedian kita kenal sebagai Radjiman Wedyodiningrat. Persoalan terseboet meloeas setjara hebat dan beralih sifat mendjadi soal filosofis...”
Perbincangan di media tentang perbedaan kedua hal itu, beralih ke masalah agama. Sebab, orang tidak mau begitu saja menerima uraian secara ilmiah bahwa penyakit tersebut ditimbulkan oleh baksil atau bakteri. Muncul dugaan-dugaan lain, seperti hal gaiblah yang menyebabkan orang terkena pageblug atau epidemi. Pagi sakit, sore mati. Sore sakit, mati pada keesokan harinya. Turut pula dalam polemik tersebut, beberapa jurnalis dari Solo dan Yogyakarta.
Karier Wahidin di dunia jurnalistik tidak dihabiskan di Retno Doemilah. Pada 1908, Wahidin juga mengawangi Goeroe Desa, sebuah majalah milik Boedi Oetomo.
Berbeda dengan Retno Doemilah yang menitikberatkan pada pentingnya pengajaran, majalah ini menyuarakan tentang kesehatan, sebagai lawan dari kepercayaan kepada dukun dan takhayul di waktu itu. Disebabkan pengaruh cara pandang Wahidin inilah Soetomo dan kawan-kawan di STOVIA mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, yang hingga sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Semangat Wahidin terus menyala hingga usianya bertambah tua. Ia tetap mengabdikan diri di lapangan sosial. Sebagai baktinya kepada bangsa Indonesia, Wahidin juga diteguhkan sebagai Pahlawan Nasional dengan SK Presiden RP tahun 1973. Demikian dikutip dari buku, “Tanah Air Bangsa, Seratus Jejak Pers Indonesia”.
(Tuty Ocktaviany)