Wow! Guru SMP Ini Koleksi Lukisan Hingga Ratusan

Agregasi Jawapos.com, Jurnalis
Rabu 15 Februari 2017 16:05 WIB
Mahmud Yunus, guru SMP yang koleksi ratusan lukisan (Foto: Jos Rizal/Jawa Pos)
Share :

SIDOARJO - Demi hobi dan kecintaannya terhadap seni, seorang guru SMP bersedia merogoh kocek begitu dalam untuk menggelontorkan banyak uang demi koleksi ratusan lukisan.

Guru SMP bernama Mahmud Yunus bahkan sudah menyulap rumahnya menjadi rumah seni untuk publik. Sehingga tak hanya dirinya seorang yang bisa menikmati hobinya, tapi juga orang-orang yang memiliki minat serupa dengannya.

Di bawah rindangnya pepohonan bambu, di belakang permukiman Pondok Mutiara, berdiri rumah Mahmud Yunus yang elok. Bukan hanya dekorasinya yang terlihat berbeda dari rumah-rumah lain di blok CG. Namun, lukisan-lukisan yang terpampang di dinding rumah tersebut membuatnya terlihat memiliki nilai lebih. Ukiran kayu yang membalut rumah itu semakin menambah nuansa artistik.

“Selamat datang di padepokan saya. Memang saya desain klasik seperti ini karena saya suka seni,’’ kata Willy, panggilan Mahmud Yunus, saat menyambut Jawa Pos.

Dia sengaja menjadikan rumahnya sebagai galeri. Dia kemudian menunjukkan galeri itu. Ada banyak sekali lukisan. Besar dan lebarnya beragam. Aliran lukisannya pun berwarna. Mulai lukisan realis yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, hiperealis yang memiliki resolusi tinggi, lukisan abstrak yang menggunakan warna dan bentuk tidak wajar, hingga lukisan ekspresionis yang menggunakan gambaran emosi kejiwaan pada setiap goresannya. “Dari semua lukisan itu, ada tiga yang paling saya suka,’’ ungkapnya.

Pertama, lukisan kali pertama yang dibeli pada 1989 karya Jansen Jasien. Lukisan itu menggambarkan sesuatu dengan segala aktivitas masyarakat di mulut bangunan. Mulai masyarakat biasa yang berlalu-lalang hingga petani yang membopong pancing dan ikan. Hitam putih warnanya. Bukan tanpa sebab lukisan itu menjadi salah satu yang disukai. “Ini kisah pertama saya mencintai seni rupa,’’ ungkapnya.

Perjumpaan Willy pada seni rupa terjadi sejak menempuh kuliah di jurusan Sejarah Antropologi IKIP Surabaya (kini Unesa, Red). Tepatnya pada 1984. Bukan suasana kampus yang membawanya pada seni rupa, tetapi kawan-kawannya di Balai Pemuda. “Karena sering kumpul dengan seniman dan melihat pameran di sana, saya jadi kepincut dengan lukisan,’’ tuturnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya