Pemimpin Tertinggi umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus, juga menyampaikan dukacita mendalam bagi korban tewas, korban luka-luka, dan keluarga korban. Ledakan terjadi hanya beberapa pekan menjelang kunjungan pria asal Argentina itu ke Mesir pada 28-29 April 2017.
“Saya mendoakan para korban tewas dan luka-luka. Semoga Tuhan mengubahkan hati orang-orang yang menebar teror, kekerasan, dan kematian, bahkan hati mereka yang memproduksi serta menjual senjata,” tutur Paus Fransiskus, seperti dimuat Reuters.
Umat Kristen Koptik yang merupakan minoritas, mengalami penindasan selama puluhan tahun sejak pemerintahan Presiden Hosni Mubarak hingga Mohammad Mursi. Tidak heran, umat Kristen Koptik mendukung kudeta terhadap Mohammad Mursi yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Fattah el Sisi, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Pergantian kekuasaan membawa secercah harapan bahwa penyiksaan dan diskriminasi terhadap umat Kristen Koptik berkurang. Akan tetapi, diskriminasi masih saja berlangsung. Media-media Mesir sempat melaporkan bahwa gereja di Tanta sudah menjadi target pengeboman, yakni ketika sebuah bom berhasil dijinakkan pada penghujung Maret 2017.
“Di mana pemerintah? Tidak ada itu pemerintah!” teriak seorang umat bernama Maged Saleh di luar sebuah rumah sakit di Tanta. Pria berusia 27 tahun itu berhasil keluar dari gereja dengan selamat bersama ibunya meski lengannya dipenuhi darah.
Presiden Abdul Fattah el Sisi langsung menerbitkan status darurat selama tiga bulan usai melakukan pertemuan dengan Dewan Keamanan Mesir. Status tersebut masih harus menunggu pengesahan dari parlemen. Mayoritas legislator parlemen Mesir diketahui mendukung penuh el Sisi sehingga pengesahan status tersebut hanya bersifat formalitas belaka.
(Wikanto Arungbudoyo)