KUPANG - Dalam 20 tahun terakhir kerusakan hutan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah semakin parah yakni mencapai 15.163,65 hektare dari potensi hutan dan lahan seluas 2.109.496,76 hektare.
"Salah satu pemicu kerusakan hutan di NTT adalah cuaca yang kadang tidak menentu yang berdampak pada kekeringan dan atau bencana alam banjir serta aktivitas manusia yang mengeksploitasi hutan itu sendiri," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Andreas Jehalu, di Kupang, Rabu (10/5/2017).
Ia mengatakan kondisi alam seperti itu tidak perlu ditangisi, tetapi berupaya untuk terus maju agar kehidupan rakyat bisa lebih sejahtera. Meski cuaca tidak menentu, kata dia, semua itu tidak menjadi kendala dalam mengolah lahan yang gersang.
"Terbukti ada orang NTT yang meraih Kalpataru. Saya yakin bahwa para penerima kalpataru ini menanam di atas lahan yang gersang, ini menunjukan bahwa di mana saja lahan itu bisa ditanami," tuturnya.
Dirinya menyebut penerima kalpataru tingkat Provinsi NTT dari waktu ke waktu terus meningkat untuk berbagai Kategori Perintis Lingkungan, Kategori Pembina Lingkungan, Kategori Penyelamat Lingkungan.
Menurut dia, para penerima kalpataru harus menjadi motivator dan penggerak mulai dari sekolah-sekolah hingga ke unit dan lembaga terkait di Provinsi NTT yang memiliki kepedulian dalam pelestarian lingkungan hidup.
"Semua pihak, harus memerhatikan dengan serius kerusakan hutan dan perubahan fungsi lahan karena memberikan kontribusi besar bagi memburuknya perubahan iklim di Indonesia," sebut Andreas.
Hingga akhir 2015 lanjutnya, tercatat luas wilayah daratan di NTT mencapai 47.349,9 km persegi. Dari total tersebut kata dia, hutan dalam kawasan hutan mencapai 661.680,74 hektare dan di luar kawasan hutan seluas 1.447.816,02 hektare.
Menurut dia, hutan merupakan komponen penting bagi bumi dalam peranannya untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
"Hutan melayani hampir semua kehidupan terutama bagi kepentingan umat manusia. Sehingga harus ada timbal balik dari umat manusia untuk menjaga dan melestarikan hutan sesuai peran dan kemampuan masing-masing," tuntas dia.
(Rizka Diputra)