Dugderan, Tradisi Warga Semarang Tandai Awal Ramadan

Taufik Budi, Jurnalis
Senin 22 Mei 2017 03:46 WIB
Ilustrasi tradisi dugderan (Foto: Okezone)
Share :

SEMARANG - Banyak cara dan tradisi yang digelar warga untuk menyambut datangnya Ramadan. Tak terkecuali warga Semarang, Jawa Tengah memiliki tradisi Dugderan, yang tak sekadar pasar rakyat tetapi juga sekaligus menandai awal masuknya bulan puasa.

Tradisi ini selalu menyedot perhatian masyarakat karena banyak pedagang 'tiban' yang berjualan di pasar rakyat sepekan sebelum Ramadan. Puncak acara dugderan adalah satu hari sebelum bulan puasa, berupa karnaval yang diikuti pasukan merah putih, drumband, pasukan pakaian adat berbagai daerah, meriam, warak ngendok, serta berbagai kesenian di Kota Semarang.

Dalam karnaval itu, yang paling mengundang perhatian adalah warak ngendok, sejenis binatang rekaan yang memadukan tiga unsur hewan. Warak ngendok juga sebagai simbol kerukunan antaragama dan suku yang terdapat di Semarang.

Kepalanya menyerupai kepala naga, sebagai simbol khas kebudayaan dari etnis Tionghoa. Sedangkan tubuhnya berbentuk layaknya unta khas kebudayaan dari etnis Arab. Sedangkan keempat kakinya menyerupai kaki kambing khas kebudayaan dari etnis Jawa.

Secara bahasa, warak ngendok berasal dari kata wara'ah dan ngendog. Wara'ah adalah bahasa Arab berarti menahan dari sesuatu yang buruk, sementara ngendok dari bahasa Jawa dengan arti bertelur.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya