NEW YORK – Penyelidik medis berhasil mengidentifikasi jasad seorang pria yang tewas di Menara World Trade Center pada tragedi 9/11 yang terjadi 16 tahun lalu. Sampai saat ini, baru 60 persen jasad korban yang tewas dalam tragedi itu yang dapat diidentifikasi.
Identifikasi tersebut adalah keberhasilan pertama dilakukan para peneliti sejak Maret 2005 dalam upaya yang panjang untuk memberikan penutup bagi keluarga para korban. Atas permintaan keluarga korban, identitas jasad yang baru teridentifikasi tersebut tidak diungkap ke publik.
BACA JUGA: FBI Rilis 27 Foto Langka Pentagon Usai Tragedi 9/11
BACA JUGA: 11 September 2001: dari Ground Zero, Wajah Amerika Serikat Berubah
Dari 2.753 korban yang terbunuh saat pesawat komersial yang dibajak teroris menabrak menara kembar pada 11 September 2001, baru 60 persen di antaranya yang diketahui identitasnya. Sedangkan 40 persen lainnya atau sekira 1.100 orang masih belum dapat diidentifikasi.
Hanya beberapa mayat utuh yang berhasil ditemukan setelah gedung pencakar langit tersebut terbakar dan roboh 16 tahun lalu. Efek dari panas, bahan kimia dan bakteri membuat sisa-sisa jasad para korban sulit untuk dianalisa.
Diwartakan Sky News, Selasa (8/8/2017), kantor pemeriksa medis New York mulai menggunakan teknologi DNA baru yang lebih sensitif dalam upayanya untuk menghubungkan lebih dari 21.900 potongan fragmen kepada korban. Baru-baru ini sebuah teknologi yang menggunakan proses penghancuran fragmen digunakan untuk mengekstraksi DNA, dan membandingkannya dengan kumpulan materi genetik yang dikumpulkan dari korban dan keluarga mereka.