Kisah Desa di Jerman yang Mengubah Perang Dunia

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Rabu 09 Agustus 2017 19:10 WIB
Foto: Getty Images
Share :

Peenemünde telah mengilhami seniman internasional seperti pelukis Catalonian, Gregorio Iglesias Mayo dan seniman cetak Meksiko-Amerika Miguel A Aragón untuk berinteraksi dengan situs ini.

Mayo melukis di kanvas berukuran 121 kaki x 40 kaki di halaman museum, yang menggambarkan dimensi manusia dalam hubungannya dengan peralatan teknis skala besar menyatakan bahwa Peenemünde adalah sebuah "tempat di mana pernah ada kamp konsentrasi, tempat penelitian, penciptaan, intelijen, kelemahan, kontras, frustrasi, ketidakberdayaan dan perjuangan untuk hal-hal yang paling dasar."

Selain menggunakan seni sebagai cara untuk mengolah sejarah, museum ini juga menyelenggarakan konser The Baltic Sea Philharmonic di aula turbin pembangkit listrik.

Situs tersebut, yang dulu mengancam untuk memporakporandakan Eropa, kini menghadirkan musisi terkemuka dari 10 negara di kawasan ini.

Pada tahun 2002, museum ini dianugerahi Converty Cross of Nails atas upayanya dalam hal rekonsiliasi dan perdamaian.

Sekarang, tiap kali saya mengunjungi Usedom yang cerah, Peenemünde menarik saya ke banyak nuansa cahaya dan abu-abu yang ia miliki.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya