nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah di Balik Potret Menakjubkan Tentang Perang dan Kemiskinan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 16 Februari 2019 04:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 16 18 2018721 kisah-di-balik-potret-menakjubkan-tentang-perang-dan-kemiskinan-j6gLdOtkce.jpg (Foto: DonMcCullin/Tate)

SELAGI pameran foto karya Don McCullin digelar di London, Fiona Macdonald menyaksikan beragam potret menakjubkan tentang perang dan kemiskinan yang diciptakan salah satu fotografer terandal Inggris.

"Mengapa Anda tidak berada di titik peristiwa terpenting di dunia jika sebenarnya Anda bisa ada di sana?"

Kalimat tersebut diutarakan McCullin dalam wawancara dengan BBC Culture tahun 2014. Ia memaparkan alasannya menjelajah Berlin pada 1961 tanpa penugasan dari media massa manapun.

McCullin beranjak untuk mendokumentasikan pembangunan Tembok Berlin yang kala itu masih berupa struktur beton sementara sebagai pos pemeriksaan tentara.

Foto-foto itu belakangan menggenjot kariernya sebagai foto jurnalis dan mengirimnya ke konflik di berbagai tempat, seperti Siprus, Vietnam, Lebanon, dan Irlandia Utara.

Saat ini berusia 83 tahun, ia beralih menjadi fotografer yang mengabadikan lanskap Britania Raya.

Kerap mempertaruhkan nyawa, McCullin tidak mundur dari peristiwa yang barangkali terlalu menyeramkan bagi sebagian orang - anak-anak bertubuh ceking yang kelaparan, sekelompok laki-laki yang disiksa sebelum dieksekusi, dan keluarga yang menangisi jenazah orang terkasih.

Sebuah keluarga di Lebanon meninggalkan Pemakaman Martyrs di kota Beirut tahun 1976. McCullin ingin memastikan ia cukup dekat dengan subjeknya sehingga mendapatkan izin yang tak terucap lisan (Foto: Don McCullin/Tate)

Banyak dari potret itu ditampilkan dalam pameran di galeri Tate Britain. McCullin mencetak sendiri lebih dari 250 foto di kamar gelap.

Meski sebagian besar foto itu menyiratkan nestapa, ada sesuatu yang membuat kita sulit untuk tidak mengacuhkannya.

Dalam kadar tertentu, betapa dekat McCullin membawa kita - entah bagaimana, kita seperti terlibat hanya dengan melihat yang terjadi. Sekali kita melihat, kita tak dapat mengalihkan diri darinya.

Dan kedekatan itu adalah sesuatu yang disengaja.

"Saya tak percaya Anda dapat melihat lebih dari apa yang terlihat jika Anda tidak mengambil resiko," demikian pernyataan McCullin yang dikutip dalam pameran di Tate itu.

"Saya berkali-kali berada persis di ujung jurang, tidak lebih dari satu kaki atau satu inci. Itu adalah satu-satunya tempat di mana Anda bisa melihat dan menunjukkan penderitaan yang sesungguhnya."

"Melihat apa yang dihindari orang lain adalah inti dari hidup saya sebagai fotografer perang," ujar McCullin.

Grenade Thrower, Hue, Vietnam, 1968. Pertempuran di kota Hue merupakan salah satu yang terpanjang dan mematikan selama Perang Vietnam. (Foto: Don McCullin/Tate)

Sebuah foto yang diabadikan di Vietnam tahun 1968, yang memperlihatkan seorang laki-laki meluncurkan sebuah benda ke udara, mirip potret olahragawan.

Namun kenyataan di balik pose melempar granat itu menemani perjalanan pulang McCullin. "Dia terlihat seperti atlet lempar lembing Olimpiade. Lima menit setelah itu, tangan pendek nan kekar itu hancur lebur terkena peluru."

Banyak foto disampaikan dalam satu baris judul dan kosa kata pribadi tentang bahasa tubuh.

Salah satu foto McCullin di Republik Biafra, yang diabadikan tahun 1968 ketika perang antara kelompok separatis dan pemerintah Nigeria memicu krisis kemanusiaan, menunjukkan tujuh anak kecil bertulang rusuk yang menonjol ke kulit, masing-masing dengan kertas yang menempel di dahi.

Foto itu dilengkapi dengan keterangan 'mereka yang memilih untuk hidup'.

Pada foto dari konflik yang sama, juga dipotret tahun 1968, seorang laki-laki berseragam bersender ke tubuh rekan tentaranya. Telapak tangannya menunjukkan gestur perbincangan yang intim.

Namun bukannya tersenyum, tentara itu tidak terlihat mendengarkan. Dalam deskripsi foto, McCullum menulis, "Saya melihat komandan itu membungkuk ke tubuh prajuritnya yang mati dan berbicara kepadanya seolah-olah sejawatnya itu masih hidup."

"Dia menyanjung keberanian prajurit itu dan mengucap terima kasih atas nama Republik Biafra. Kejadian itu menyentuh sekaligus mengerikan," ujarnya.

Keseimbangan antara keterkejutan dan kesedihan menjelaskan kekuatan banyak foto karya McCullin. Sebuah serial foto yang diambil di pedesaan imigran Turki di Siprus menghadirkan kepedihan yang amat dalam.

"Saya menemui dua laki-laki. Faktanya, ada seorang ayah dan dua putranya. Lalu sekelompok orang putus asa datang... Seorang perempuan masuk sambil berteriak."

"Salah satu orang yang meninggal itu adalah suami barunya," kata McCullin. Ia lantas meminta izin memotret, mendapatkannya, lalu berbegas mengabadikan momen.

"Saya mulai mengatur komposisi foto dengan cara yang sangat serius dan bermartabat. Itu adalah kali pertama saya memotret sesuatu yang besar seperti ini."

"Saya akui sulit untuk tidak menitikkan air mata," tuturnya.

Prajurit marinir AS yang teguncang, Pertempuran Hue, 1968. McCullin mengabadikan sejumlah potret serdadu yang tak berkedip sejak diserang lawan. (Foto: Don McCullin/Tate)

Pada 1971, majalah Sunday Time menugaskan McCullin ke Irlandia Utara. Konflik bersenjata di negara itu, yang dikenal dengan istilah Troubles, selalu terjadi di jalanan antara permukiman Katolik dan Protestan.

Salah satu foto McCullin menunjukkan anak-anak lelaki yang melarikan diri dari semprotan gas air mata, lalu melompati tembok berhiaskan grafiti. Foto itu menakutkan, seolah-olah diabadikan dari parit-parit medan tempur.

Foto lain memperlihatkan seorang pemuda Katolik yang anehnya mengenakan setelah jas berdasi dan mengangkat balok kayu ke arah pasukan gas air mata. Komposisi itu memungkinkan kita melihat dua sisi tembok yang saling menutupi tersebut.

McCullin yakin sangatlah penting untuk menyesuaikan tatapan terhadap hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. "Anda harus kuat menyaksikannya. Anda tidak dapat berpaling begitu saja," tuturnya seperti dikutip dari pengantar pameran.

Dan McCullin tidak berniat untuk berat sebelah. Potretnya tentang marinir AS di Vietnam memperlihatkan gangguan stres pascatrauma bahkan sebelum keberadaan penyakit itu sepenuhnya diakui.

Ada nilai yang sepenuhnya mendorong McCullin untuk berkarya. "Kita tidak bisa dan tidak seharusnya diizinkan melupakan hal-hal mengerikan yang dapat kita lakukan terhadap sesama manusia," ujarnya.

Bahkan ketika mendokumentasikan kengerian yang amat sangat, McCullin berhadap dapat meyakinkan kita untuk tetap melihatnya.

"Seringkali potret itu berisi kekejian. Namun saya ingin menciptakan suara bagi orang-orang yang ada dalam foto itu."

"Saya ingin suara itu membujuk masyarakat untuk bertahan lebih lama ketika melihatnya, sehingga mereka tidak berpaling dengan ingatan menakutkan, melainkan kesadaran yang mengikat."

Dan McCullin juga telah mendokumentasikan medan pertempuran lainnya. "Ada perang sosial yang berfaedah. Saya tidak ingin mendorong publik menilai fotografi hanya diperlukan untuk mengungkap tragedi dalam peperangan," ujarnya.

Potret McCullin tentang seorang gelandangan asal Irlandia yang diabadikan di London tahun 1970 merupakan salah satu karyanya yang paling terkenal.

"Saya tidak bertindak sebagai fotografer, tapi manusia," begitu ia berkata melalui keterangan fotonya.

"Saya berupaya menyeimbangkan yang saya potret bukan sebagai fotografer, melainkan sebagai seorang manusia, seorang laki-laki, dan fotografi tak berhubungan sekali dengan itu."

"Itu adalah hal yang saya pelajari. Ini hanya cara berkomunikasi," katanya.

Sejak akhir 1960-an hingga awal 1980-an, McCullin memotret orang-orang yang hidup di jalanan sekitar pusat industri keuangan London.

McCullin juga membawa kameranya ke komunitas yang tinggal di kawasan utara Inggris, yang tersingkir akibat kebijakan deindustrialisasi.

Para mandor dengan setelan hari Minggu, Finsbury Park, London, 1958. Setelah pembunuhan seorang polisi, foto-foto McCullin tentang gerombolan lokal muncul di media massa. (Foto: Don McCullin/Tate)

Dalam salah satu fotonya, seorang perempuan mendorong kereta api melintasi daerah yang terlihat seperti tanah kosong pada era kehancuran dunia.

Pada foto lainnya, seorang lelaki mendorong kereta bayi yang ditumpangi anak laki-laki yang kehilangan kaki akibat kecelakaan di tempat pembuangan barang tak berguna.

McCullin memilih untuk mendekat kepada subjeknya dengan empati, baik terhadap orang-orang yang tengah berkabung serta tentara atau orang-orang yang dimarjinalkan.

McCullin dideskripsikan sebagai 'hati nurani berkamera' oleh Harold Evans, editornya di Sunday Times. Dan ia sangat dikaitkan dengan berbagai potret yang diabadikannya.

Ayah McCullin wafat akibat penyakit kronis saat McCullin berusia 14 tahun. Ia tumbuh di keluarga miskin di sebuah kawasan di London yang hancur lebur ketika Perang Dunia II berkecamuk.

McCullin berkata, ia berempati pada banyak orang yang dipotretnya. "Saya mengetahui perasaan mereka. Ini bukan soal 'saya merasa beruntung dan bersimpati pada mereka' tapi 'saya juga telah mengalaminya'".

Salah satu foto awal dalam pameran di Galeri Tate itu diabadikan di Taman Finsbury, daerah permukiman di mana ia tumbuh.

"Saya memulai fotografi secara tidak sengaja. Seorang polisi berhenti di ujung jalan permukiman kami dan seorang laki-laki menusuknya dengan pisau."

"Itulah bagaimana saya menjadi fotografer. Saya memotret gerombolan yang pergi ke sekolah bersama saya."

"Saya tidak memilih fotografi, sepertinya dia yang memilih saya. Tapi saya setia dan telah mempertaruhkan hidup saya selama 50 tahun," kata McCullin.

Pameran Don McCullin digelar di Galeri Tate Britain hingga 6 Mei 2019.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini