Kisah di Balik Potret Menakjubkan Tentang Perang dan Kemiskinan

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 16 Februari 2019 04:06 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 16 18 2018721 kisah-di-balik-potret-menakjubkan-tentang-perang-dan-kemiskinan-j6gLdOtkce.jpg (Foto: DonMcCullin/Tate)

Banyak foto disampaikan dalam satu baris judul dan kosa kata pribadi tentang bahasa tubuh.

Salah satu foto McCullin di Republik Biafra, yang diabadikan tahun 1968 ketika perang antara kelompok separatis dan pemerintah Nigeria memicu krisis kemanusiaan, menunjukkan tujuh anak kecil bertulang rusuk yang menonjol ke kulit, masing-masing dengan kertas yang menempel di dahi.

Foto itu dilengkapi dengan keterangan 'mereka yang memilih untuk hidup'.

Pada foto dari konflik yang sama, juga dipotret tahun 1968, seorang laki-laki berseragam bersender ke tubuh rekan tentaranya. Telapak tangannya menunjukkan gestur perbincangan yang intim.

Namun bukannya tersenyum, tentara itu tidak terlihat mendengarkan. Dalam deskripsi foto, McCullum menulis, "Saya melihat komandan itu membungkuk ke tubuh prajuritnya yang mati dan berbicara kepadanya seolah-olah sejawatnya itu masih hidup."

"Dia menyanjung keberanian prajurit itu dan mengucap terima kasih atas nama Republik Biafra. Kejadian itu menyentuh sekaligus mengerikan," ujarnya.

Keseimbangan antara keterkejutan dan kesedihan menjelaskan kekuatan banyak foto karya McCullin. Sebuah serial foto yang diambil di pedesaan imigran Turki di Siprus menghadirkan kepedihan yang amat dalam.

"Saya menemui dua laki-laki. Faktanya, ada seorang ayah dan dua putranya. Lalu sekelompok orang putus asa datang... Seorang perempuan masuk sambil berteriak."

"Salah satu orang yang meninggal itu adalah suami barunya," kata McCullin. Ia lantas meminta izin memotret, mendapatkannya, lalu berbegas mengabadikan momen.

"Saya mulai mengatur komposisi foto dengan cara yang sangat serius dan bermartabat. Itu adalah kali pertama saya memotret sesuatu yang besar seperti ini."

"Saya akui sulit untuk tidak menitikkan air mata," tuturnya.

Prajurit marinir AS yang teguncang, Pertempuran Hue, 1968. McCullin mengabadikan sejumlah potret serdadu yang tak berkedip sejak diserang lawan. (Foto: Don McCullin/Tate)

Pada 1971, majalah Sunday Time menugaskan McCullin ke Irlandia Utara. Konflik bersenjata di negara itu, yang dikenal dengan istilah Troubles, selalu terjadi di jalanan antara permukiman Katolik dan Protestan.

Salah satu foto McCullin menunjukkan anak-anak lelaki yang melarikan diri dari semprotan gas air mata, lalu melompati tembok berhiaskan grafiti. Foto itu menakutkan, seolah-olah diabadikan dari parit-parit medan tempur.

Foto lain memperlihatkan seorang pemuda Katolik yang anehnya mengenakan setelah jas berdasi dan mengangkat balok kayu ke arah pasukan gas air mata. Komposisi itu memungkinkan kita melihat dua sisi tembok yang saling menutupi tersebut.

McCullin yakin sangatlah penting untuk menyesuaikan tatapan terhadap hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. "Anda harus kuat menyaksikannya. Anda tidak dapat berpaling begitu saja," tuturnya seperti dikutip dari pengantar pameran.

Dan McCullin tidak berniat untuk berat sebelah. Potretnya tentang marinir AS di Vietnam memperlihatkan gangguan stres pascatrauma bahkan sebelum keberadaan penyakit itu sepenuhnya diakui.

Ada nilai yang sepenuhnya mendorong McCullin untuk berkarya. "Kita tidak bisa dan tidak seharusnya diizinkan melupakan hal-hal mengerikan yang dapat kita lakukan terhadap sesama manusia," ujarnya.

Bahkan ketika mendokumentasikan kengerian yang amat sangat, McCullin berhadap dapat meyakinkan kita untuk tetap melihatnya.

"Seringkali potret itu berisi kekejian. Namun saya ingin menciptakan suara bagi orang-orang yang ada dalam foto itu."

"Saya ingin suara itu membujuk masyarakat untuk bertahan lebih lama ketika melihatnya, sehingga mereka tidak berpaling dengan ingatan menakutkan, melainkan kesadaran yang mengikat."

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini