WELLINGTON – Kebanyakan pencuri pasti mengincar barang-barang yang memiliki nilai jual tinggi. Barang-barang berharga seperti smartphone, emas, ataupun uang dianggap sebagai incaran empuk bagi pencuri. Namun tidak di Selandia Baru.
Di Selandia Baru, pencuri kebanyakan mengincar buah alpukat. Ya, benar, buah berwarna hijau yang biasa diolah menjadi jus memang mahal di negara ini. Alpukat merupakan buah ekspor nomor satu di Selandia Baru.
Selain itu, buah yang musim panennya berlangsung pada Agustus hingga Maret ini mahal akibat tren mengonsumsinya. Rasanya yang enak dan memiliki protein tinggi membuat tren mengonsumsi buah alpukat di Selandia Baru semakin meninggi.
Tren tersebut pun akhirnya menjadi peluang bagi pencuri. Alih-alih mencuri barang elektronik atau barang berharga lainnya, para pencuri memilih menggondol alpukat.
Biasanya, para pelaku mencuri alpukat di toko buah atau supermarket. Bahkan laporan terakhir, para pencuri mulai berani mencuri buah alpukat langsung ke kebunnya. Hal tersebut tentu membuat petani alpukat resah.
Petani alpukat mengeluhkan pencurian buah sudah terjadi puluhan kali. Diketahui para pencuri memuluskan aksinya pada larut malam, ketika para petani sedang berada di rumah dan tidur. Kasus tersebut pun kerap bermunculan sejak Juli 2017.
Saking lelah akan pencurian di kebunnya itu, terkadang para petani berusaha sendiri menangkap para pencuri tersebut daripada menunggu polisi datang.
"Para petani harus lebih waspada. Kami melihat pencurian dalam skala komersial. Kami melihat ribuan dolar buah yang dicuri dalam satu pukulan dan kehidupan orang lain semakin hancur... kasus ini bukan sekadar mencuri beberapa jeruk dari pohon tetangga Anda, kami menganggapnya sangat serius, " tegas Sersan Trevor Brown, dilansir dari The Telegraph, Senin (22/8/2017).
Sebenarnya para pencuri bisa saja ditangkap ketika mereka menjajakan hasil curiannya itu di pinggir jalan atau toko-toko kecil. Namun setelah banyak pencuri tertangkap tengah menjual buah curian tersebut, akhirnya pencuri lainnya memutuskan menjual hasil jarahannya itu lewat Facebook.
"Dari perspektif positif, para penjahat mungkin beralih ke media sosial karena apabila berkendara ke kios di sisi jalan dan menjual sekotak alpukat seharga 50 dolar akan lebih sulit pada musim ini," jelas CEO New Zealand Avocado, Jen Scoular.
Untuk menanggulangi kasus pencurian alpukat ini agar tidak makin melebar, polisi juga melakukan patroli di toko buah-buahan dan memastikan tidak ada pasar gelap tempat berjualan alpukat curian.
(Wikanto Arungbudoyo)