Kedatangan KRI Nagapasa 403, Pengamat: Untuk Imbangi Tuntutan TNI AL Amankan Perairan Indonesia

, Jurnalis
Senin 28 Agustus 2017 12:54 WIB
Ilustrasi (Foto: Antara)
Share :

JAKARTA - Siang ini, Indonesia kedatangan KRI Nagapasa 403 untuk memperkuat armada alutsista Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kapal selam itu sedianya akan tiba di Tanjung Perak Surabaya.

Pengamat Terorisme, Militer dan Intelijen Intelijen Nuning Kertopati Susaningtya menuturkan, dengan datangnya armada yang berasal dari galangan Korea Selatan itu, maka operasional kapal selam TNI saat ini menjadi tiga unit.

Dia menjelaskan, fungsi asasi kapal selam adalah intai taktis-strategis dan pemukul awal. Dengan fungsi asasi tersebut, maka pola penggelaran dan pola pengerahan harus difokuskan pada efek penggentar.

"Dengan pola penggelaran dan pola pengerahan yang tepat, maka 1 kapal selam bisa menyebabkan 1 armada kapal lawan terkunci di suatu zone. Kapal selam dapat melaksanakan blokade laut yang efektif dan efisien," katanya, Senin (28/8/2017).

Filosofi penggunaan kapal selam pada masa damai dan masa perang kata Nuning juga berbeda. Penggunaan pada masa damai juga ditujukan untuk pengumpul data intelijen maritim. Data-data intelijen tersebut dapat diolah dan disampaikan kepada pengguna akhir yaitu Presiden RI melalui BIN.

"Penggunaan pada masa perang dapat digunakan terlebih dahulu untuk melaksanakan infiltrasi agen intelijen dan/atau pasukan khusus," tutur dia.

Dengan kapasitas dan kompetensi tersebut memang layak kapal selam dinilai sebagai alutsista unggulan TNI di masa depan. Tepat kiranya pemerintah saat ini meningkatkan postur tempur TNI dengan menambah jumlah kapal selam.

"Penguatan kapal selam baru untuk mengimbangi antara tuntutan tugas TNI AL untuk pengamanan perairan Indonesia dengan ketersediaan alutsista," ucapnya.

Nuning juga menjelaskan, kehadiran KRI Nagapasa 403 yang direncanakan digelar di pangkalan TNI AL Palu untuk ikut mengamankan perairan Blok Ambalat semakin memperjelas kebutuhan pembentukan Komando Armada RI Kawasan Tengah. Prinsipnya kedatangan alutsista harus dibarengi dengan fasilitas logistiknya. Dengan begitu, baik alutsista maupun fasilitas pada akhirnya membutuhkan validasi organisasi, yakni Koarmateng.

Selain itu, kedatangan KRI Nagapasa 403 juga menjadi akselerator bagi PT PAL untuk berbenah diri menyiapkan sarana prasarana pembangunan kapal dan galangan kapal baru untuk pemeliharaan dan perbaikan. PT PAL dinilai harus mampu menjaga sustainability peralatan KRI Nagapasa 403 baik platform dan permesinan maupun sistem deteksi dan senjata.

“Pada skala nasional, kedatangan KRI Nagapasa 403 juga momentum bagi industri maritim dan galangan kapal lainnya di seluruh Indonesia untuk ikut aktif menyiapkan diri menerima perbaikan kapal selam. Kita tidak boleh bertumpu hanya kepada PT PAL. Pemerintah harus membuka kompetisi yang sehat agar tidak dimonopoli PT PAL. Kompetisi industri yang sehat dapat meningkatkan kinerja industri pertahanan,” ujarnya.

(Ranto Rajagukguk)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya