OKEZONE STORY: Kampanye Bulu Putih, Aksi yang Membuat Pria di Inggris Dipermalukan dan Menjadi Pahlawan

Putri Ainur Islam, Jurnalis
Sabtu 02 September 2017 08:07 WIB
Kampanye bulu putih. (Foto: The Vintage News)
Share :

PADA masa Perang Dunia I (PDI) terdapat aksi yang bernama Kampanye Bulu Putih atau ‘White Feather Campaign’ di Inggris. Aksi tersebut dilakukan oleh kumpulan aktivis wanita. Aksi tersebut dengan cara membagikan bulu berwarna putih kepada pria yang lalu lalang di jalan raya. Pria yang mereka beri bulu putih merupakan pria yang menurut mereka sepantasnya mengikuti perang.

Aksi ‘White Feather Campaign’ bertujuan agar pria yang dianggap sehat merasa malu karena tidak ikut perang. Bulu putih itu sendiri merupakan simbol dari ‘pengecut’. Meski apabila dilihat secara sekilas aksi ini bagus yaitu agar para pria tidak hanya berpangku tangan di tengah perang, namun terkadang aksi ini juga salah sasaran. Para aktivitis wanita pun juga dinilai tidak paham akan konsekuensi dari yang mereka perbuat.

Kriteria penilaian dari pria yang mereka beri bulu putih berdasarkan pandangan mereka saja. Mereka melihat seorang pria yang mereka nilai layak untuk bertugas sebagai tentara. Selain tidak ada pemahaman emosional, kampanye tersebut tidak memiliki penilaian tersendiri untuk setiap pria, seperti yang dikutip dari The Vintage News, Sabtu (2/9/2017).

Namun, bulu yang mereka bagikan salah sasaran. Seperti diberikan kepada anak laki-laki yang tidak layak untuk menjadi tentara karena usia mereka, pria yang memiliki profesi penting, pria yang tidak layak perang karena cacat fisik, dan yang terburuk, mereka pernah memberikan bulu putih kepada para veteran yang telah dipecat dengan terhormat dari tentara. Hal tersebut membuat frustrasi anak laki-laki muda yang ingin membuktikan maskulinitas mereka, menyinggung pria yang mencoba mendaftar namun ditolak karena tidak layak, dan sangat tidak sopan dan tidak tahu berterima kasih kepada para veteran.

Seorang pria yang menjadi korban salah sasaran bulu putih meninggal dalam perang. Keponakan sang pria menceritakan, saat pecahnya perang pada 1914, dia mencoba untuk mendaftar sebagai seorang tentara namun gagal karena ada masalah pada penglihatannya. Dua tahun setelah ia gagal tes tentara, pria tersebut usai bekerja dan bermaksud pulang ke rumah, tempa ia dapat bertemu istri dan ketiga putrinya. Namun dalam perjalanan pulang, seorang wanita memberikannya sebuah bulu putih. Pria tersebut pun kesal dan bingung 

Namun, pada 1916, kriteria seorang untuk menjadi tentara dipermudah. Akhirnya sang pria memaksakan diri untuk bergabung dengan tentara dan ikut perang. Tragis, pria itu tewas dalam perang. Berdasarkan cerita sang keponakan, istri yang juga bibinya itu terpukul akan kematiannya. Ia sadar betul jika suaminya memang tidak layak ikut perang dan hanya ikut perang untuk membuktikan bahwa ia bukan pengecut. Saking sedihnya, sang istri menderita dimensia.

Walaupun banyak salah sasaran, namun para aktivis wanita bertekad untuk tetap melanjutkan aksinya. Mereka membuat banyak pria mendaftar dan meskipun beberapa orang akhirnya meninggal "karena bulu putihnya" ada beberapa yang menjadi pahlawan karena alasan yang sama. Di antaranya adalah Roland Gwayne, yang kemudian menjadi Wali Kota Eastbourne.

Memang sulit untuk menyalahkan semua pada aktivis wanita yang melakukan aksi pemberian bulu putih tersebut, karena mereka memiliki alasan tersendiri. Mereka berusaha mengobarkan semangat perang kepada semua pria dan pemerintahan yang tidak mendukung mereka. Beberapa sejarawan berspekulasi bahwa inilah cara mereka untuk mendapatkan perhatian publik. Cara mereka melakukan aksi bulu putih tidak diragukan lagi merupakan tindakan yang tidak besimpati, namun wanita-wanita ini dilaporkan sengaja melakukan hal tersebut untuk memperjuangkan hak-hak mereka. (pai)

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya