Godi lantas ditarik ke bawah dan dipukuli dengan batu besar. Godi berhasil melarikan diri dari para penyerangnya. Akan tetapi, simpanse itu tidak pernah lagi terlihat dan diperkirakan mati akibat luka yang dideritanya. Serangan-serangan ke grup Kahama kemudian terjadi dengan cara yang sama.
Tentara Kasakela mengeksploitasi kelemahan simpanse dengan cara menyerang saat sedang makan. Meski dikenal senang hidup berkerumun, simpanse nyatanya lebih sering mencari makan sendiri-sendiri dan tidak membaginya dengan keluarga atau rekan-rekan. Demikian cara yang diambil Kasakela untuk menyerang Kahama.
Selama empat tahun, hampir seluruh pejantan di Kahama tewas dibunuh. Ketika pejantan hampir habis, Kasakela mengalihkan target ke betina. Tiga ekor simpanse betina diseret hingga ke wilayah kekuasaan Kasakela, sementara mereka yang menolak dibawa, dipukuli hingga mati.
Akhirnya, kelompok Kahama tidak lagi eksis pada penghujung 1978 ketika perang dinyatakan berakhir. Seluruh wilayah dikuasai oleh kelompok Kasakela. Akan tetapi, kemenangan tersebut tidak bertahan lama karena Kasakela kemudian menghadapi kelompok yang lebih superior, Kalande.
Setelah beberapa kali pertempuran, kelompok Kasakela sadar bahwa mereka sudah kalah. Kelompok Kasakela lantas mundur dari wilayah yang dulu diduduki Kahama hingga ke selatan.
Laporan Jane Goodall sendiri tidak begitu diterima dengan baik oleh sesama peneliti. Banyak kolega yang menuduhnya melakukan dosa etnologi, yaitu mentransfer perilaku manusia ke hewan. Ada pula yang menuduh Perang Gombe dipicu oleh Jane Goodall yang mengganggu proses seleksi alam para simpanse tersebut.
(Wikanto Arungbudoyo)