Pembersihan etnik
Sebagaimana yang pernah dikatakan salah satu orang dekat Suu Kyi kepada saya, "Dia tidak akan pernah terlihat melakukan apa yang Nambiar katakan kepadanya."
Aung San Suu Kyi pun tidak pernah mengakui bahwa etnik muslim Rohingya menjadi korban pembersihan etnik, walaupun puluhan ribu orang Rohingya terpaksa mengungsi setelah rumah mereka dibakar di tengah laporan adanya pembunuhan dan kekerasan seksual.
Ini bukan pertama kalinya Suu Kyi menerima kritik soal Rohingya.
Sikapnya persis sama dengan peristiwa lima tahun lalu tatkala 100.000 orang Rohingya terusir dari kampung mereka.
Daw Suu, sebutan hormat rakyat Myanmar terhadapnya, tidak bertandang ke Rakhine atau berbicara blak-blakan membela kaum minoritas yang dipersekusi.
Walau pemerintah Myanmar telah menentang ucapan kebencian dari kelompok ekstremis Buddha, Suu Kyi belum menunjukkan sikap dukungan terhadap kaum Muslim seperti yang pernah dilakukan idolanya, Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru, saat pemisahan India diwarnai kekerasan.
Gandhi membayar dengan nyawanya dan kekerasan tetap berlangsung. Kendati begitu, pada akhirnya, Gandhi maupun Nehru telah memberikan nilai-nilai yang mereka harapkan muncul dari pemisahan India.
Peristiwa ketika Nehru menerjang kerumunan umat Hindu untuk mencegah kekerasan sektarian menjadi salah satu aksi keberanian yang dikenang dalam abad ke-20.
Tiada seorang pun yang berharap Aung San Suu Kyi melakukan aksi 'berani mati' seperti itu. Namun, saat dia bahkan tidak melontarkan intervensi dalam bentuk retorika, para penyokongnya tidak habis pikir.