TIDAK banyak yang tahu bahwa sekira tiga dekade yang lalu, sebuah krisis nuklir antara Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS) yang mungkin memicu Perang Dunia III berhasil dicegah oleh seorang perwira Uni Soviet. Namun, meski tercatat dalam sejarah sebagai orang yang berhasil mencegah perang nuklir, Stanislav Petrov relatif tidak dikenal luas, bahkan setelah dia meninggal dunia.
Keputusan yang diambil Petrov pada hari menentukan itu sebenarnya tidak akan pernah diketahui tanpa jasa dari Karl Schumacher, seorang aktivis politik dari Jerman yang menyampaikan kisah Petrov kepada khalayak di Barat. Schumacher juga yang akhirnya mengetahui bahwa sang pahlawan telah meninggal dunia tanpa mendapat sorotan.
Pada 26 September 1983, Letnan Kolonel Stanislav Petrov sedang bertugas mengawasi sistem radar peringatan dini di sebuah bungker di dekat Moskow. Lewat tengah malam, Petrov melihat sesuatu yang mengejutkan di layar radarnya, sebuah rudal yang ditembakkan dari AS menuju ke Uni Soviet.
Petrov tidak memiliki banyak waktu untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Dari saat rudal diluncurkan, Kremlin hanya mempunyai waktu sekira 30 menit untuk memutuskan menekan tombol merah dan membalas serangan. Sementara bagi Petrov, dia hanya memiliki waktu 15 menit untuk menentukan apakah ancaman yang tampak pada layar radarnya adalah ancaman asli atau alarm palsu serta melaporkannya pada komandannya.
"Kursi saya yang nyaman terasa seperti wajan panas dan kaki saya lemas. Saya bahkan merasa saya tidak bisa berdiri. Seperti itulah perasaan gugup yang saya rasakan saat saya mengambil keputusan, " kata Petrov sebagaimana dikutip dari RT, Selasa (19/7/2017).
Hal ini membuat Petrov merasa kalut. Dia tahu bahwa jika mendapat serangan dari AS, maka Moskow akan membalas dengan kekuatan penuh yang mungkin berarti pengerahan senjata nuklir.
"Saat pertama kali melihat pesan peringatan, saya bangkit dari kursi. Semua bawahan saya bingung, jadi saya mulai meneriakkan perintah agar tidak panik. Saya tahu keputusan saya akan memiliki banyak konsekuensi, " kenang Petrov dalam sebuah wawancara dengan RT pada 2010.
"Sirene berbunyi untuk kedua kalinya. Huruf merah raksasa muncul di layar utama kami, berbunyi START. Di sana diinformasikan bahwa empat rudal lagi telah diluncurkan," ujarnya lagi.
Menyadari semua resiko yang mungkin terjadi, Petrov mengatakan pada atasannya bahwa telah terjadi malfungsi pada sistem yang menyebabkan alarm menyala. Dia memutuskan untuk menentukan bahwa tanda yang tampak pada radarnya bukanlah rudal dari AS.
"Saya akui, saya takut. Saya tahu tingkat tanggung jawab di ujung jari saya,” ujarnya.
Belakangan diketahui bahwa satelit Uni Soviet salah mendeteksi pantulan cahaya matahari yang memantul di awan sebagai peluncuran rudal. Namun, bukannya mendapat pujian atas perannya menghindari pecahnya perang, Petrov justru dimarahi karena tidak mengisi jurnal perbaikan setelah atasannya ditegur terkait kekurangan yang ada pada sistem radar tersebut.
"Atasan saya disalahkan dan mereka tidak ingin mengakui bahwa ada orang yang berbuat baik, tapi malah memilih untuk menyalahkan yang lainnya."
Selama lebih dari 10 tahun, kejadian itu ditutupi dan digolongkan sebagai hal yang sangat rahasia. Bahkan Raisa, istri Petrov yang meninggal pada 1997 tidak mengetahui peran suaminya dalam mencegah terjadinya perang nuklir.
Barulah pada 1998, atasan Petrov, Kolonel Jenderal Yury Votintsev buka suara dan melaporkan jasa anak buahnya kepada media. Tindakan yang diambil Petrov pada 1983 akhirnya disorot dan dilaporkan oleh surat kabar Jerman, Bild.
"Setelah membaca laporan ini, saya seolah tersambar petir. Saya tidak dapat menghilangkan pemikiran bahwa saya harus melakukan sesuatu untuk orang yang mencegah perang nuklir dan menyelamatkan dunia," kata Karl Schumacher dalam blog-nya.
Schumacher kemudian terbang ke Rusia untuk Petrov dan menemukannya tinggal di sebuah apartemen di Fryazino, timur laut Moskow. Schumacher mengundang Petrov ke Oberhausen, Jerman, sehingga penduduk setempat dapat mengetahui kisah saat dunia berada di ambang bencana nuklir.
Selama berada di Jerman, Petrov muncul di TV lokal dan memberikan wawancara ke beberapa surat kabar. Setelah perjalanannya tersebut, Petrov pun mendapatkan dan penghargaan dari dunia internasional. Pada 2006, Asosiasi Warga Dunia menyerahkan sebuah penghargaan, yang berbunyi: "Kepada orang yang mencegah perang nuklir," kepada Petrov di markas besar PBB di New York.
Pada 2012, Petrov dianugerahi Hadiah Media Jerman yang juga diberikan kepada sejumlah tokoh penting dunia lain seperti Nelson Mandela, Dalai Lama dan Kofi Annan. Setahun kemudian dia menerima anugerah Hadiah Perdamaian Dresden. Kisahnya bahkan diangkat ke layar lebar pada 2014 dalam film “The Man Who Saved The World” yang dibintangi aktor Kevin Costner.
Pada 7 September, Schumacher yang masih terus berhubungan dengan Petrov di tahun-tahun setelahnya mencoba menghubungi Petrov untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada pria kelahiran 9 September 1939 itu. Namun, Schumacher justru mendapat kabar dari putra Petrov, Dmitry bahwa sang ayah telah meninggal dunia pada 19 Mei 2017.
Dalam sebuah wawancara, Petrov mengatakan dia tidak pernah menganggap dirinya sebagai pahlawan. Dia hanya seorang perwira militer yang menjalankan tugasnya di tempat dan waktu yang tepat.
"Semua yang terjadi tidak penting bagi saya - itu adalah pekerjaan saya, saya hanya melakukan pekerjaan saya, dan saya adalah orang yang tepat pada saat yang tepat, itu saja. Mendiang istri saya selama 10 tahun tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Dia bertanya kepada saya, ‘Apa yang kamu lakukan?' Saya menjawab, 'Tidak ada, saya tidak melakukan apa pun.'"
(Rifa Nadia Nurfuadah)