Sedangkan merempa adalah menghalau ikan menggunakan jala secara bersama-sama yang dilakukan oleh sekelompok nelayan berjumlah lima sampai 10 orang dengan membuat lingkaran besar, selanjutnya mereka bersama-sama memukul-mukul air hingga membuat kumpulan ikan menjadi panik, kegiatan memukul air terus sambil berjalan hingga lingkaran jala menjadi kecil dan akhirnya ikan bisa ditangkap.
Seorang warga Desa Semayang, Sulaiman mengatakan, jika sedang musim ikan, maka harga ikan atau dalam bahasa Kutai disebut jukut, akan menjadi sangat murah, bahkan nyaris tidak berharga. “Untuk jukut seperti Biawan, Kendia dan Repang harganya hanya Rp3 ribu per kilo, itu juga sudah mahal. Begitu juga jukut ruwan (Gabus) dan Toman paling mahal Rp15 ribu per kilo,” katanya beberapa waktu lalu.
Sebagian besar ikan hasil tangkapan, dijual langsung kepada pengepul yang datang dari Tenggarong dan Samarinda. Sebagiannya lagi diolah menjadi ikan asin lalu dikirim ke Pulau Jawa.
Namun, di balik potensi danau yang luar biasa ini, ada permasalahan yang sangat mengganggu para nelayan yakni ulah para pencari ikan dengan cara disetrum. Mereka ingin mendapatkan hasil yang banyak dengan cara yang mudah cepat namun membahayakan habitat ikan. “Memang hasil yang didapat banyak dan ikannya besar-besar tapi ikan yang kecil-kecil juga ikutan mati,” katanya.
Parahnya, para penyetrum ini tak hanya menggunakan setrum dari aki motor yang kekuatan dayanya terbatas, tetapi menggunakan mesin genset yang daya setrumnya lebih kuat. “Hingga ikan dari yang besar sampai yang kecil mati semua. Persoalannya hanya ikan yang besar diambil sedangkan ikan kecil dibiarkan saja,” jelasnya.
Ia mengatakan para penyetrum ikan ini mulai bekerja pada malam hingga pagi hari, jumlahnya tak tanggung-tanggung bisa mencapai puluhan orang. Mereka itu merupakan warga dari desa-desa di sekitar Danau Semayang.