HARI PAHLAWAN: Menghayati Kisah Perjuangan Terbesar 10 November 1945 di Surabaya

Yudhistira Dwi Putra, Jurnalis
Jum'at 10 November 2017 08:15 WIB
Pertempuran 10 November (FOTO: Okezone)
Share :

Kekhawatiran itu pun terbukti benar. Pihak Belanda melalui Inggris, mengultimatum pemerintah Indonesia yang baru terbentuk, untuk melakukan gencatan senjata.

Dalam selebaran yang disebar melalui udara, Komandan Angkatan Perang Inggris di Jawa Timur Mayor Jenderal Mansergh meminta seluruh pimpinan Indonesia, pemuda, polisi dan kepala radio Surabaya, menyerahkan diri ke Bataviaweg atau Jalan Batavia, pada 9 November 1945.

Kemarahan para pejuang meledak kala itu. Mereka menganggap permintaan musuh sebagai sebuah penghinaan. Dengan cepat, BPRI memberikan pelatihan kilat perang gerilya. Terutama tentang tata cara penggunaan senjata hasil rampasan pasukan Nippon. Dari pelatihan itulah terbentuk barisan yang dikenal sebagai "pasukan berani mati".

Pejuang dari berbagai daerah turun. Tak hanya masyarakat Surabaya, namun juga masyarakat dari Maluku, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Bali. Selain itu, para kiai, ulama serta para muda-mudi turut terjun ke medan perang.

Di tengah situasi genting itu, Gubernur Jawa Timur Suryo sempat berpidato melalui radio, meminta rakyat Indonesia bersabar menunggu keputusan dari pemerintah pusat di Jakarta. Namun, pemerintah pusat justru menyerahkan pengambilan keputusan pada pemerintah daerah dan rakyat. Akhirnya, Gubernur Suryo kembali berpidato dan meminta rakyat mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamirkan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya