Tanggal 19 Januari 1996, PBB mulai melibatkan diri. Aksi penyanderaan yang dilakukan OPM berhasil mencuri perhatian lembaga perserikatan tertinggi bangsa-bangsa di dunia. Kepada para penyandera, Sekjen PBB ketika itu, Boutros Boutros Ghali meminta agar para sandera segera dibebaskan. Pada hari yang sama, ABRI mengirim Paul Bourkat dan Andrian van der Boel untuk kembali melakukan mediasi.
Dalam mediasi itu, Paul dan Andrian disebut-sebut berhasil berbicara dengan Daniel Koyoga, komandan operasi yang berada di bawah komando langsung Kelly Kwalik. Hasilnya, pada malam hari pukul 20.00 waktu setempat, ABRI menyatakan rencana pembebasan sandera secara damai melalui perantara.
Dalam masa penyanderaan itu, sebuah sumber sipil menyebut bahwa para warga negara asing yang menjadi sandera berhasil berkirim surat dengan negara asal mereka melalui kedutaan besar masing-masing. Surat-surat tak bersampul itu konon dibawa oleh Frank Momberg. Isinya, para sandera meminta ABRI untuk tidak bertindak gegabah.
Belakangan, dari surat itu diketahui bahwa Inggris, Belanda dan Jerman juga tengah melakukan upaya pembebasan warga negara mereka masing-masing. Bahkan, kantor berita Reuters mengungkap adanya tiga orang detektif Inggris yang berasal dari Scotland Yard di Irian Jaya. Kapuspen ABRI ketika itu mengaku tak tahu menahu perihal keberadaan ketiga detektif itu. Bagi ABRI, Inggris boleh saja berpartisipasi dalam upaya pembebasan sandera, asalkan mereka tetap menghargai kedaulatan Indonesia.
Bukan hanya otoritas resmi. Keluarga sandera asal Inggris pun ikut bersuara. Lewat BBC Indonesia di London, mereka meminta kepada para penyandera untuk membebaskan anggota keluarga mereka. Terkait itu, Kodam Trikora menginformasikan bahwa otoritas di Indonesia tengah melakukan pendinginan, termasuk dalam hal pemberitaan di media massa.
Pada 7 Februari 1996, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengirimkan sebuah tim untuk membantu upaya pembebasan sandera. Saat itu, dilaporkan bahwa lokasi penyanderaan telah berpindah, dari Mapenduma ke Geselama, desa lain di Kecamatan Tiom. Mediasi berbuah manis. ICRC berhasil menemui Kogoya di lokasi penyanderaan. Pertemuan ini menjadi pertemuan yang pertama sejak Kogoya dan Kwalik memutuskan hubungan mediasi dengan ABRI pada 25 Januari 1996. Titik terang mediasi kembali menyala.
Dalam pertemuan itu, ICRC meminta pembebasan sandera dengan damai dilakukan pada 25 Februari 1996. Namun, permintaan itu ditolak oleh Kogoya. Ia mengatakan, pembebasan tak dapat dilakukan tanpa izin dari pimpinan OPM di Papua Nugini.
Mediasi antara ICRC dan para penyandera terus berjalan. Perlahan, pasang dan surut, pembebasan para sandera terus diupayakan. Kogoya sempat menitipkan sebuah roll film berisikan foto-foto kondisi para sandera. Selain itu, para penyandera juga meminta agar pembebasan sandera nantinya dihadiri oleh perwakilan negara masing-masing sandera dan diabadikan dalam sebuah video.
Pasang Surut Mediasi dan Keterlibatan Paus Paulus II
Upaya mediasi mulai terasa tawar. Pada 26 Februari 1996, sebuah informasi menyebut bahwa para sandera ditempatkan di dalam sebuah gua dijuluki "gua kelelawar". Menurut informasi, gua kelelawar berada di ketinggian tujuh meter dan hanya bisa dijangkau lewat titian anak tangga.