Penyanderaan Mapenduma, Turunnya 400 Tentara Akhiri Upaya Berbulan-bulan Mediasi yang Buntu

Yudhistira Dwi Putra, Jurnalis
Sabtu 11 November 2017 08:15 WIB
Penyanderaan Mapenduma (FOTO: Garuda Militer/Istimewa)
Share :

Pada 29 Februari 1996, para ICRC berhasil menemui para sandera di sebuah gubuk di Desa Geselama. Pada pertemuan ini, Kogoya mengirimkan pesan kepada Tim Satgas bahwa pihaknya baru akan mempertimbangkan kemungkinan pembebasan sandera setelah berkomunikasi dengan pimpinan OPM di Papua Nugini. Selang beberapa hari kemudian, Kogoya dan Kwalik mengeluarkan pernyataan lebih keras. Mereka menyatakan tak akan membebaskan para sandera, kecuali pemerintah mengakui kemerdekaan Republik Papua Barat.

Selanjutnya, pada 4 Maret 1996, Moses Weror, pemimpin dewan revolusi OPM mengumumkan bahwa pemimpin umat Katolik sedunia Paus Johanes Paulus II telah mengirimkan surat kepada Kelly Kwalik dan Kogoya. Paus, melalui suratnya meminta agar para sandera segera dibebaskan. Esokan harinya, Moses menyatakan keinginan untuk bernegosiasi dengan pemerintah. Sejumlah nama disebut oleh Moses, mulai dari Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR/DPR, Wahono dan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Moses ingin nama-nama tersebut dihadirkan dalam negosiasi nantinya.

Pada upaya mediasi kali itu, Moses menyebut batas waktu pembebasan sandera adalah bulan September 1996, berbarengan dengan Sidang Majelis Umum PBB. Moses mengatakan, negosiasi ini akan menjadi negosiasi pamungkas yang menentukan nasib para sandera.

Setelah pertemuan dua hari dengan ICRD di Port Moresby, Papua Nugini, Moses memerintahkan Kwalik dan Kogoya untuk membebaskan para sandera. Moses beralasan, penyanderaan yang telah berlangsung lama telah berhasil menyita perhatian dunia internasional. Selain itu, Moses merasa puas lantaran ICRC berjanji akan membuka perwakilan di Irian Jaya.

Namun celaka bagi berbagai soal tentang negosiasi dan mediasi itu. Simon Allom, juru bicara Kogoya dan Kwalik menyatakan tak akan menuruti perintah Moses. Mereka bahkan menyatakan akan membunuh para sandera apabila tuntutan-tuntutan mereka --termasuk melibatkan empat tokoh OPM dalam negosiasi-- tak dipenuhi.

Insiden Terbunuhnya 16 Orang di Pucuk Senjata Otomatis Letda Sanurip

Tanggal 16 Maret 1996, seorang sandera, Abraham Wanggai dibebaskan. Pasca pembebasan Abraham, sebuah kabar mengejutkan diberitakan. Hampir satu bulan sejak pembebasan Abraham, tepatnya 15 April 1996, Letda Sanurip yang bertugas dalam operasi pembebasan sandera di Mapenduma menembak mati 16 orang. Tiga perwira Kopassus, delapan pasukan Kostrad serta lima warga sipil tewas diberondong senjata otomatis sang letnan.

Berbagai versi menyebut alasan dibalik penembakan yang dilakukan Letda Sanurip, mulai dari dirinya yang terjangkit malaria, stres hingga sakit hati pribadi. Entah apa alasan yang sebenarnya. Yang jelas, atas insiden itu, Letda Sanurip dijatuhi hukuman mati pada 23 April 1997.

Pada pekan kedua bulan Mei 1996, ICRC menyatakan mengundurkan diri dari agenda mediasi. Mereka mengaku tak dapat lagi bersikap netral. Sementara itu, salah satu helikopter yang mengawal tim ICRC dikabarkan jatuh setelah mengalami rusak mesin. Semua yang berada di heli itu tewas.

Dimulainya Operasi Mapenduma Akhiri Mediasi Alot Berbulan-bulan

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya