DIPIMPIN oleh seorang kaisar, Romawi menjadi bangsa kolonial yang besar dengan banyak daerah jajahan. Sering digambarkan sebagai kerajaan megah dengan berbagai kemewahan, banyak juga penemuan dalam bidang pengetahuan, teknologi dan arsitektur dihasilkan bangsa Romawi. Tak heran, berbagai pihak menyebut peradaban bangsa ini termasuk unggul.
Namun, artefak-artefak yang ditemukan arkeolog membuktikan gaya hidup dan kebiasaan masyarakat Romawi Kuno jauh dari kata beradab. Bahkan, beberapa di antaranya mengundang kontroversi.
Berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan aneh masyarakat Romawi Kuno seperti yang dilansir dari Vintage News.
1. Buang Hajat dengan Puluhan Orang dan Merapal Mantra Demi Usir Roh Jahat di Toilet
Masyarakat Romawi Kuno menganggap toilet umum sebagai tempat yang paling mengerikan. Beberapa toilet umum memiliki 50 kloset tanpa sekat pembagi. Bentuk kloset di toilet umum ini berupa lubang yang langsung terhubung dengan saluran pembuangan.
Banyak bahaya yang mengintai mereka. Tak jarang seekor tikus memanjat lubang kloset dan menggigit bokong orang yang tak beruntung. Selain itu, reaksi gas dan metana dalam saluran air menimbulkan percikan api dan membuat tubuh mereka terbakar.
Berbagai cara pun dilakukan masyarakat Romawi Kuno agar terhindar dari ancaman bahaya saat sedang melakukan “urusannya”. Mereka percaya, tawa akan mengusir roh-roh jahat dalam toilet. Mereka menggambar karikatur di dinding-dinding toilet untuk membuat mereka tertawa. Selain itu, mereka juga memajang Fortuna, dewi keberuntungan agar mereka terhindar dari segala bentuk kesialan.
Saat situasi mulai menyeramkan, mereka mulai merapal doa kepada sang dewi. Butuh waktu cukup lama agar masyarakat Romawi sadar bahwa kebersihan adalah hal utama yang menghindarkan mereka dari bahaya dan penyakit.
2. Menggunakan Satu Alat Pembersih Bersama
Saat tisu toilet belum diciptakan, masyarakat Romawi Kuno menggunakan sebuah alat bernama "Xylospongium" untuk membersihkan diri sehabis buang air besar. Xylospongium adalah spons yang diikat di sebatang kayu. Setiap toilet hanya menyediakan beberapa Xylospongium yang ditaruh dalam ember berisi air. Hal yang paling menjijikkan, alat ini dipakai bersama-sama dan tidak pernah dibersihkan. Kebiasaan jorok ini membuat bakteri menyebar cepat dan penyakit tifus dan kolera dengan mudah menjangkit mereka.
3. Berkumur Menggunakan Urin
Urin merupakan hal yang penting dalam kehidupan masyarakat Romawi Kuno. Mereka mengunakan urin untuk menyamak kulit binatang, mencuci baju dan sebagai nutrisi tanaman. Masyarakat Romawi Kuno mengumpulkan urin di sebuah tangki dan menjualnya. Beberapa produk industri, menggunakan urin sebagai salah satu komposisinya. Selain digunakan di industri, urin juga melekat pada kehidupan sehari-hari masyarakat Romawi Kuno. Urin kerap digunakan sebagai obat kumur. Mereka percaya kandungan amonia dalam urin membuat gigi tetap bersih dan kuat. Hal ini terbukti benar, namun berkumur dengan urin saat ini menjadi hal yang sangat menjijikkan.
4. Minuman Energi dari Kotoran Kambing
Selain urin, bahan yang paling sering digunakan masyarakat Romawi Kuno adalah kotoran kambing. Kotoran kambing terbaik didapat saat musim semi. Mereka akan mengumpulkan kotoran itu dan mengeringkannya. Lalu kotoran kambing itu dipakai sebagai pengering luka.
Kotoran kambing juga berfungsi sebagai bahan pembuat minuman energi. Prajurit Romawi Kuno sering meminum bubuk kotoran kambing yang dicampur dengan cuka untuk mengembalikan stamina mereka yang kelelahan setelah bertarung. Menurut Pliny, seorang penulis dan naturalis di zaman itu, minuman energi ini sangat berkhasiat. Kaisar Nero pun ikut meminum ramuan ini saat ia ingin memperkuat dirinya di pertarungan trigarium.
5. Sengaja Muntah demi Makan Lebih Banyak Lagi
Romawi Kuno digambarkan sebagai wilayah yang kaya dan sejahtera. Ada banyak sekali makanan dan minuman di istana, terutama saat sedang berpesta.
Kaisar dan petinggi-petinggi kerajaan terbiasa makan sampai kekenyangan. Setelah tak sanggup lagi, mereka akan muntah agar bisa kembali melanjutkan makan.
Kegiatan mengosongkan perut itu tak dilakukan di toilet. Sebuah mangkuk kosong telah disediakan di sekitar meja untuk menampung isi perut mereka. Kadang mereka muntah di lantai dan langsung melanjutkan makan seolah-olah tak terjadi apa-apa. Mereka juga tidak peduli dengan kebersihan di sekitar meja karena telah ada pelayan yang mengurus hal itu.
(Griska Laras Widanti/Magang)
(Wikanto Arungbudoyo)