Kawat Diplomatik Inggris Ungkap 10 Ribu Orang Tewas di Alun-Alun Tiananmen

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis
Minggu 24 Desember 2017 20:06 WIB
Demonstrasi di Tiananmen masih merupakan isu sensitif di China (Foto: AFP)
Share :

LONDON – Jumlah korban tewas dalam demonstrasi besar-besaran di Alun-Alun Tiananmen, China, mencapai 10 ribu orang. Fakta tersebut terungkap lewat dokumen kawat diplomatik Inggris yang dikirimkan Duta Besar Sir Alan Donald ke London.

Angka tersebut, menurut Sir Alan, diberikan oleh seorang sumber dari anggota Dewan Negara China. Sebelumnya, estimasi korban tewas dalam aksi unjuk rasa pro-demokrasi itu hanya berkisar antara ratusan hingga ribuan orang saja.

Pemerintah China sendiri pada penghujung Juni 1989 menyatakan bahwa 200 orang warga sipil dan puluhan aparat keamanan tewas di Tiananmen, Bejiing. Korban berjatuhan dalam operasi untuk meredam aksi yang disebut sebagai ‘kekacauan revolusioner’ pada 4 Juni 1989.

Kawat diplomatik itu dikirimkan oleh Sir Alan Donald pada 5 Juni 1989 atau sehari setelah terjadi kekacauan. Ia mengaku mendapat angka tersebut dari seseorang yang meneruskan informasi dari rekan dekatnya di Dewan Negara China. Lembaga tersebut adalah kabinet pemerintahan dan diketahui oleh perdana menteri.

Informasi tersebut selama ini disimpan di Arsip Nasional Inggris Raya di London dan baru dibuka untuk umum pada Oktober lalu. Dalam kawat itu, Donald mengatakan bahwa sumber tersebut memiliki reputasi yang bagus, dapat dipercaya, dan sangat hati-hati dalam memisahkan fakta dari spekulasi dan rumor.

“Para pelajar paham bahwa mereka hanya diberikan waktu satu jam untuk meninggalkan alun-alun, tetapi setelah lima menit aparat tiba-tiba menyerang,” tulis Sir Alan Donald dalam kawat diplomatik itu, mengutip dari BBC, Minggu (24/12/2017).

“Para pelajar saling berangkulan tetapi dilindas, termasuk tentara. Aparat kemudian menggilas mayat-mayat itu berkali-kali untuk membuat ‘pai’ dan potongan tubuh dikumpulkan dengan bulldozer. Sisa jenazah kemudian dibakar dan dibuang lewat saluran air. Empat orang gadis yang terluka sempat memohon ampun tetapi ditusuk dengan bayonet,” tutup Sir Alan Donald.

Ia mencatat bahwa beberapa anggota Dewan Negara sempat memperhitungkan adanya perang sipil. Sebagaimana informasi, unjuk rasa tersebut berlangsung selama tujuh pekan sebelum tentara dikirim untuk mengamankan keadaan.

Unjuk rasa di Tiananmen itu merupakan yang terbesar sepanjang sejarah China. Pembantaian tersebut masih menjadi hal yang sensitif di Negeri Tirai Bambu. Beijing melarang segala bentuk peringatan yang digelar aktivis serta mengatur agar diskusi tentang tragedi itu disensor secara ketat di internet.

(Wikanto Arungbudoyo)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya