Merdeka 66 Tahun, Rakyat Libya Rindu Perdamaian

, Jurnalis
Senin 25 Desember 2017 11:47 WIB
Seorang pria mengibarkan bendera Libya. (Foto: Libyan Express)
Share :

"Kita harus menyelesaikan keadaan dengan cepat. Perdamaian adalah satu-satunya cara untuk hidup berdampingan. Kita harus menolak budaya kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan. Kita harus menyatukan gagasan dan upaya kita untuk menyelamatkan negeri kita. Untuk itulah, nenek-moyang kita mengorbankan ribuan nyawa yang berharga untuk memelihara persatuan," kata wanita tersebut.

Mendiang Raja Idris As-Senussi, penguasa perdamaian negeri itu setelah kemerdekaan, memerintah Libya sampai mendiang orang kuat Libya Muammar Khaddafi memimpin kudeta terhadap dia.

"Jalan menuju perdamaian di negeri ini sangat panjang. Itu hanya bisa dicapai dengan menyelenggarakan konferensi umum nasional yang meliputi semua wakil faksi Libya," kata seorang insinyur Libya yang berusia 45 tahun, Munir Al-Harari.

"Ketika negara meraih kemerdekaan pada awal 1950-an, kondisi keharmonisan dan saling pengertian menyebar di antara warga kota besar Libya. Keharmonisan dilandasi oleh konsep suku. Kehidupan dipimpin oleh hubungan suku dengan cara yang memperlihatkan cinta setiap orang bagi peran sosial dalam membangun negara dan semua lembaganya, kendati kemiskinan tersebar luas," kata Al-Harari kepada Xinhua.

Amerika Serikat menengahi antar-pihak yang bertikai di Libya guna mengakhiri krisis politik, melalui satu rencana aksi yang mencakup perubahan kesepakatan politik Libya saat ini dan penyelenggaraan pemilihan presiden dan anggota parlemen tahun depan.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya