Korea Utara Rayakan Ultah Seabad Nenek Kim Jong-un

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Minggu 31 Desember 2017 12:33 WIB
Koin emas berhias wajah Kim Jong-suk yang dicetak khusus untuk merayakan ulang tahunnya ke-100. (Foto: KCNA/BBC)
Share :

WARGA Korea Utara merayakan ulang tahun ke-100 "pahlawan perang" Kim Jong-suk secara besar-besaran. Jong-suk bukanlah perempuan biasa. Ia merupakan istri pertama pendiri Korea Utara Kim Il-sung dan nenek pemimpin saat ini, Kim Jong-un.

Dia diyakini berasal dari keluarga petani miskin yang lahir di malam Natal pada 1917. Jong-suk juga dikisahkan ikut bertempur dengan pasukan gerilya melawan pasukan Jepang pada 1930-an.

Jong-suk meninggal pada 1949, saat masih berusia 31 tahun. Berbagai catatan resmi negara itu menyebutkan kematiannya disebabkan kesulitan yang dialaminya sebagai pejuang gerilya.

Keahlian Menembak yang Bagus

Untuk menandai ulang tahun Jong-suk yang ke-100, media Korea Utara menggambarkan perjuangannya dalam bahasa yang hiperbolik, seperti biasa.

Jong-suk bukan hanya "wanita revolusioner yang luar biasa" dan "ibu revolusi yang suci", "keahlian menembaknya sangat bagus bahkan rekannya sesama penembak pun bisa menebak jumlah musuh yang terbunuh dengan menghitung sabuk kantong peluru yang kosong setelah pertempuran," kata sebuah laporan di kantor berita KCNA yang dikelola pemerintah.

Korea Utara mengatakan telah merilis perangko-perangko baru, mencetak koin emas dan perak baru, dan mengadakan pertunjukan budaya untuk menghormatinya.

Satu laporan mengatakan "lebih dari 300 ribu pegawai pemerintah, pekerja dari seluruh lapisan masyarakat, pemuda dan pelajar, orang Korea di luar negeri dan orang asing" mengunjungi tempat kelahirannya tahun ini.

Membesarkan Kim Jong-il

Namun, penghormatan kepada Kim Jong-suk tidak mencerminkan bagaimana negara itu memperlakukan rata-rata perempuan di sana.

Meski semakin banyak perempuan yang berperan sebagai pedagang dan pencari nafkah, dan ideologi Komunis negara tersebut mendukung kesetaraan gender, proporsi perempuan yang menduduki peran kepemimpinan puncak dalam organisasi negara sangatlah kecil.

Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Kim Jong-un, adalah satu-satunya anggota perempuan partai Politbiro yang berkuasa.

Di masyarakat Korea Utara yang sangat patriarki, peran kunci perempuan masih membesarkan keluarga. Dengan kenyataan itu, media mencatat bahwa "perjuangan terbesar" Kim Jong-suk adalah "membesarkan Kim Jong-il sebagai pemimpin matahari terbit dan dengan demikian memberikan kehormatan tertinggi dan kebahagiaan kepada orang Korea Utara karena diberkati dengan para pemimpin agung dari generasi ke generasi".

Meski begitu, mengangkat senjata masih merupakan cobaan berat. Pada 2015, pemerintah dilaporkan membuat wajib militer untuk perempuan dari usia 17 sampai 23 tahun. Salah seorang mantan tentara menggambarkan kondisi bagi perempuan di sana sangat memprihatinkan.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya