TIDAK terbayang orangtua mana tega menjual darah dagingnya yang masih teramat belia. Namun hal tersebut bukanlah suatu hal tak terbayangkan bagi seorang anak asal Pakistan bernama Iqbal Masih. Iqbal benar-benar merasakan rasanya “dijual” oleh orangtuanya sendiri di kala ia masih berusia empat tahun. Ia dijual ke sebuah perusahaan untuk menjadi penenun karpet.
Untuk menjaga Iqbal dan anak-anak lainnya tidak kabur, sang pemilik perusahaan selalu mengikat mereka ke mana pun mereka pergi. Iqbal juga diperlakukan seperti orang dewasa dan harus bekerja 14 jam sehari selama enam hari dalam seminggu. Seperti tak punya harapan, Iqbal pun terus bekerja hingga ia berusia 10 tahun.
Pada usia itulah asa kebebasan Iqbal terlihat. Pengadilan Pakistan menyatakan bahwa perdagangan anak adalah hal yang ilegal. Tak berpengaruh dengan peraturan tersebut, Iqbal tetap dipekerjakan layaknya budak dan mendapatkan bayaran yang sangat murah. Iqbal pun mantap untuk melarikan diri dari perdagangan manusia dan perbudakan tersebut.
Keberanian Iqbal mendorongnya untuk mengambil risiko yang mengancam nyawanya jika dia gagal. Tekadnya kuat, Iqbal mengambil langkah berani dan merencanakan sebuah pelarian. Ia lalu mengajak beberapa anak lain bersamanya dan mereka semua melarikan diri langsung menuju kantor polisi. Namun sayang, pelarian Iqbal bak keluar dari kandang singa masuk ke kandang buaya. Pihak kepolisian justru mengembalikan Iqbal dan teman-temannya ke majikannya untuk mendapatkan uang sebagai hadiah.
Akibat usahanya untuk melarikan diri, sang majikan pun menghukumnya dengan kejam. Majikannya sengaja membuat Iqbal kelaparan ekstrem dan memukulinya terus-menerus. Namun penyiksaan tersebut tidak membuatnya kapok. Di usianya yang ke-12, Iqbal kembali mencoba kabur, kali ini menuju Brick Layer Union. Di sana, Iqbal menghubungi seorang aktivis bernama Ehsaan Ullah Khan, yang membantu membebaskannya dan beberapa anak dari Arshad, pemilik bisnis karpet tempat Iqbal bekerja.
Tak hanya membebaskan dirinya, Iqbal juga berhasil membebaskan 3.000 anak lainnya yang menjadi korban perdagangan manusia dan perbudakan. Ia juga kerap memberikan pidato di negaranya dan beberapa negara berkembang lainnya di mana terdapat perbudakan anak.
Jiwa sosialnya pun semakin berkembang ketika ia bersekolah. Iqbal kerap mengikuti aktivitas-aktivitas sosial meski ia masih berusia 12 tahun. Iqbal juga menyatakan keinginannya untuk menjadi pengacara guna memberantas sistem perbudakan dari negaranya dan dunia. Seiring popularitasnya meningkat lebih jauh sebagai pemimpin muda, dia diundang untuk menyampaikan pidato di Amerika Serikat dan Swedia.
Suatu hari, Iqbal datang ke sebuah pertemuan dan membuat hadirin di hadapannya menangis. Air mata para hadirin tidak dapat dibendung saat Iqbal menceritakan pengalamannya sebagai pekerja anak. Dalam setiap kesempatan serupa, Iqbal juga mendesak orang-orang elite Pakistan maju membantunya dalam usaha mengembalikan masa kecil yang hilang ke ribuan anak kecil yang bekerja di ladang dan pabrik tanpa kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.
Meski masih berusia 12 tahun, bukan berarti Iqbal dapat hidup tenang layaknya anak-anak seumurnya. Iqbal terus-menerus menerima ancaman pembunuhan dari orang-orang yang menginginkan pekerja dengan harga murah. Pada 16 April 1995, setelah kembali dari perayaan Paskah bersama keluarganya, Iqbal ditembak mati di Muridke, Pakistan, oleh Muhammad Ashraf. Iqbal mengucapkan selamat tinggal kepada dunia dan membuatnya sedikit lebih indah dari pada saat dia lahir.
Kematian Iqbal memicu banyak kemarahan. Pakistan pun terbangun dari tidur nyenyak untuk melawan kejahatan yang memperbudak anak-anak dan merenggut masa kecil mereka. Hingga kini, Iqbal menjadi ikon bagi anak-anak Pakistan yang masih belum bisa membebaskan diri dari kejahatan pekerja anak.
(pai)
(Rifa Nadia Nurfuadah)